Kau mendatangiku dengan menangis, mengadukan perih yang kau simpan sejak pisah dengan nya. Mangatakan ketakmampuanmu menyimpan galau dalam kurun yang lama, menyatakan ketaksiapan mu untuk sendiri. “aku sudah berusaha, tapi aku nggak bisa tanpa dia”. Aku terus diam mendengar ocehanmu untuk kesekian kalinya, bukan aku tidak menghargaimu, tapi aku tidak suka melihatmu menyerah. “kok kamu diem aja sih ka, tolong aku dong, bilang apa kek. Dari tadi aku kaya ngomong sama batu aja” selamu mengusik pikiranku. Aku menghela napas berat, membiarkan beban yang kau bagi padaku terbang bersama helaan napas ini “aku mendengar kok, emang kamu butuh apa” jawabku masih dingin. Aku lihat raut mukamu tambah kesal mendengar responku “Aku kesini karena aku pikir kamu bisa bantu, kamu malah nanya aku balik”.
Aku tahu kau marah, kau hina aku dengan berbagai cara sebelum kau meninggalkan ku terdiam “ah, sudahlah percuma aku bicara padamu. Memang kamu nggak bakal bisa bantu aku, bodohnya aku masih mengandalkanmu”. Sejak saat itu, kau tak pernah menghampiriku, Aku pun hanya bisa melihatmu dari kejauhan, disela-sela kesendirianmu aku melihat kau duduk sesenggukan disudut sana sambil memeluk lututmu, seakan lutut itu akan menghantarmu pada kedamaian yang kau inginkan. Aku mendengar keluhmu “kenapa ini terjadi lagi, kenapa aku tertipu untuk kedua kali, tidak ada jawaban dari siapapun, aku merindukan pelukmu far, aku ingin kau kembali”. Aku kelimpungan ketika melihatmu bangkit dari dudukmu apakah dia melihatku melihatnya, aku sembunyikan wajahku seraya berharap dia tidak mengetahui keberadaan ku yang mengintipnya dari balik kaca. Kau bangkit bolak balik, dari jauh aku mendengar tapak kaki milik ibumu mendekati kamar. “Riska, ada telpon ni” ibumu memanggil merdu dan kau tetap terdiam hingga panggilan kedua yang membahana dalam ruangan “Ka, kamu tidur. Ini ada telpon dari farsi”. Seketika itu pula aku melihat matamu cemerlang, seolah kejadian seminggu ini yang mengganggu hatimu bukanlah hal besar “Siapa bun? Farsi? Iya bun, bentar Iska keluar” teriakmu penuh semangat.
Aku tidak mungkin mengikuti langkahmu, mendengarkan pembicaraanmu dengan lelaki yang menyakitimu lebih dekat, cukuplah aku mendengar sayup sayup kau berkata sambil tertawa bahagia “Farsi, benar ini farsi. Ya ampun”. Ada jeda cukup lama sebelum aku mendengar kau menjawab “iya, aku ingin ketemu. Aku ingin ketemu kamu, biarkan aku aja yang ke kos kamu. Nggak apa apa kok”. Aku mendengar gelagatmu seperti anak kecil yang mendapatkan mainan kesukaannya. Kau girang tertawa masuk kamar, memilih milih pakaian yang ingin kau pakai dan mendekatiku “bagus kan ini, aku mau bertemu farsi, dia barusan nelpon bilang kalo dia kangen sama aku”. Aku turut bahagia bisa melihat rona merah kembali di wajahmu “benarkah itu? dan sekarang kamu mau kemana” jawabku sok tak tahu. “aku mau menemuinya, aku akan ke kosnya. Benar perasaanku dia kembali mengisi hatiku”. Aku melihat binar matamu yang menerawang jauh memikirkan apa yang ingin aku lakukan. Seketika itu pula aku iba “Aku adalah cermin bagimu, aku tahu kamu bahagia, ka. Tapi akankah lebih baik kalo dia saja yang kesini, dan kalian ngobrol dulu gimana kelanjutannya”. Kau diam termenung memikirkan perkataanku, dan tiba tiba raut muka bahagiamu memerah marah “aku sudah menduga, kamu nggak suka kan aku bahagia, nggak setuju kalo aku balik lagi sama dia?, kenapa sih kamu nggak ngertiin aku sedikit saja, aahh harusnya aku tahu kalo kamu tu nggak lebih dari pikiran pikiran yang aneh”. Aku terus menyela “tapi ka, bukan begitu. Aku senang, bukankah kita ini satu, dengarkanlah aku ka”. Entah kenapa aku tetap pada pendirianku tetap ingin dia menunggu farsi disini, tapi Riska hanya mendengus penuh amarah memekakkan telingaku “Aaaaahh sudahlah. Aku tu aku, kamu tu kamu. Aku mau pergi”.
Kau pergi meninggalkan aku dengan pintu yang kau lempar begitu keras, aku menangis. Ini pertama kalinya aku menangisi hati Riska. Aku adalah pikiran positifnya yang berada dibalik kaca, tersembunyi begitu jauh karena dia, Riska terlalu asyik bersama pikiran negatifnya. Riska menghampiriku ketika dia menyadari masih butuh aku, tapi tak jarang dia hanya mendengar, tanpa melakukan saranku. Meskipun aku dan pikiran negatif adalah partikel tak terpisahkan, tapi kami bertolak belakang, kami mengisi pikiran penguasa tubuh dengan cara kami sendiri. Riska tumbuh dengan terbiasa mempercayai musuhku, dan aku pun terperangkap di kaca ini.
Aku menunggu dia pulang, tapi tak kudengar langkah sepatu kets yang terbiasa dipakainya. Aku mendengar sayup sayup sang bunda bolak balik kamar dan mencari catatan buku telpon teman temannya.
Ini sudah lewat tengah malam, pagi hampir tiba, tinggal menunggu suara merdu ayam membahana. Dari ruang tengah, aku mendengar bunda berteriak, “Riskaaaaaa, ya Allah. Apaa? Mobilnya amblas ke jurang? Benarkah ini pak, Riska Pratiwi anak saya”. Bunda masih tenang ketika mengkonfirmasi ulang di telpon, namun dibalik itu aku kelimpungan berbicara sendiri Ada apa ini, katakan perkiraanku salah. Kenapa ini. Aku takut menduga duga apa yang terjadi di ruang tengah, aku membisu berharap bisa mendengar kan lebih jelas kejadian diluar. Kaca ini terlalu tebal, aku tidak bisa keluar dari sini, aku ingin memeluk bunda dan melihat Riska, melihat aku sendiri.
Pintu kamar terbuka, aku melihat tubuh pemilikku terbujur kaku tak bergerak. Dia mati, aku mati. Aku senyap memanggil manggil nya, tapi dia terus diam tak mendengar, tubuhnya memar dengan pipi yang membengkak. Kenapa wajah cantikmu berubah, cantik. Apa yang terjadi padamu, Riska. Kau lukai aku selamanya, sekali ini kau sangat membuat aku luka. Kau terus diam, disebelahmu bunda sesenggukan bertemankan para tetangga yang sembunyi sembunyi menutup hidung. “sabar bu, mudah mudahan Riska tenang di alam sana, yang penting kita sudah menemukan jasadnya” saran tetangga yang dekat dengan bunda. Bunda hanya terus sesenggukan dan menghela napas “Iya, riska sayang, maafkan bunda ya. Bunda ingin riska tenang. Sayang, bunda sayang Riska”.
Aku seharusnya tahu tiga belas jam kau sendiri mencari jalan pulang, keluar dari tumpukan berat besi besi yang menimpa tubuhmu, aku harusnya tahu kau menyesal. Tapi aku dan tubuhmu yang terbalut jarak dan waktu yang sangat jauh membuatku tak mungkin untuk mendampingimu bertahan hidup. Aku harusnya tahu bahwa tingkah anehmu seminggu ini karena kau ingin pergi jauh, karena kau ingin bilang kau tak tahan bersama pikiran yang memberikanmu ide ide negatif, karena kau tahu hanya dengan mati kau bisa menninggalkannya, kau pun tahu dengan mati kau bisa melepaskanku dari kaca ini dan dengan mati kau mengungkap resah tangis dalam hatimu, kau melepas tangis itu ke bumi dan tak kau simpan sendiri lagi. Kau sudah mengurungku cukup lama dan kini karena sayangmu kau lepaskan aku dengan kerelaanmu mengorbankan diri. Aku tahu aku tak tahu apa apa.