pelangi adalah jawaban atas penantian saat setiap anak manusia letih mencicipi nuansa sakit..
Selasa, 16 Juni 2009
MA!!!!
Aku terduduk diam saat itu, tak bisa aku lupakan bagaimana besarnya rasa yang aku miliki untuk satu wanita semenjak tali persahabatan itu dikokohkan. Mungkin seperti impian Nobita yang berharap akan mendapatkan Shizuka dalam kisah Doraemon, seperti itulah aku. Aku mengharapkan dimasa depan, aku memilikinya dalam ikatan yang lebih dalam. Wendi, Aku dan Dia berteman sejak kami dibangku TK, jarak rumah aku dan dia yang berdekatan memberikan kami banyak waktu untuk selalu menghabiskan waktu bersama. Aku tidak pernah merasakan bahwa kesalahanku adalah mendefinisikan kebiasaan bersamanya sebagai cinta. Wendi memang bodyguard bagi kami, karena dia yang paling kuat. Tapi kondisi membuat aku selalu menjaganya, wanita terlemah dalam kelompok kami. Tidak ada yang menyangka persahabatan kami terus berjalan hingga masa kuliah selesai, persahabatan yang tidak diisi dengan kehadiran pihak ketiga yaitu Pacar. Mungkin pengecualian ini tidak berlaku bagi Wendi, yang selalu berganti pasangan dengan alasan yang mendukungnya “sebelum menikah, aku harus menyeleksi calon istriku”. Ketika Wendi sibuk menyeleksi pasangan hidupnya, saat itu pula keberadaanku untuknya semakin intens. Kami melewati hari bersama, setiap hari aku melewati kawasan Gombel untuk turun kedaerah bawah, menjemputnya dikampusnya. Kami kuliah di universitas yang sama, Dia kuliah di Ekonomi yang berada di daerah bawah dan aku kuliah di Arsitektur yang berlokasi didaerah atas. Jarak kampus kami memang berjauhan, tapi hal ini tidak mempersulit hubungan kami. Tidak ada yang bisa membuat kami berpisah, aku selalu berangkat kuliah bersamanya, jarak rumah kami yang berdekatan dan lokasi kampusnya yang selalu kami lewati cukup menjadi alasan untuk kebersamaan kami yang tidak terpisahkan. Aku terus ada untuknya, akan terus menjaganya kapanpun dan dimanapun. Entahlah, Aku tidak tahu mengapa dia ‘seorang wanita tercantik’ dimataku, yang memiliki lesung pipi mempesona dan rambut hitam panjang sebahu, tidak memiliki orientasi untuk memiliki pacar. Aku mengetahui beragam jenis lelaki yang mendekatinya dan menawarkan beragam cinta untuknya, namun tampaknya dia tak dapat digubris atau tersentuh sedikitpun. Dia hanya pernah berkata “Aku lebih senang bersamamu, Ja. Daripada bersama pria ga jelas. Kamu tahu kan, kita sudah punya Wendi yang nggak bisa diatur, bagaimana aku bisa jalan sama para pria sejenis Wendi. Lebih baik bersamamu” dan Dia tersenyum indah penuh makna. Aku mengartikan pernyataannya sebagai suatu rasa bahwa Dia senang bersamaku dan akan selalu begitu “tidak ada lelaki” desahku dalam hati. Keakraban yang terjalin diantara aku dan dia menimbulkan kegelisahan tersendiri bagiku, bertahun tahun aku memendam perasaan bersalah dan cinta, bertahun tahun aku menolak keberadaan orang lain, hanya untuknya. Hingga pada suatu ketika, saat aku dan dia disibukkan oleh tenggat waktu penyusunan skripsi, yang menyita waktu kebersamaan kami. Waktu itu, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan padanya. Aku berada dirumahnya saat sore itu, dari luar aku mendengar gelak tawa nya yang tak biasa, dia tampak bahagia. “Assalamu’alaikum” sapaku dari luar untuk kedua kalinya. Intonasi suara yang menjawab salam bercampur dengan gelak tawa “Wa’alaikumsalam”. Dia terperanjat ketika melihatku berdiri mematung dipintu yang setengah terbuka “Ja, kamu. Ya Ampun kenapa ga masuk aja kayak biasa”. Gelagatku yang malu-malu memang seperti copet yang baru saja memasang niat untuk beraksi. Aku masuk ketika diruang tengah aku melihat seorang lelaki berkulit putih bersih dan memiliki lesung pipi yang sama manisnya tersenyum ramah padaku. Baru pertama kalinya aku melihat keberadaan lelaki asing di rumah ini, tentunya selain Wendi. “Ja, kenalkan ini kakak kelasku” katanya sambil tersipu yang beru ini aku lihat. “Rinjani” sapaku sambil menyodorkan tangan dan disambut oleh lelaki yang mengaku bernama “Riqza”. Niat awalku tertunda karena Riqza masih bersamanya, memberikan pengarahan tentang penulisan skripsi. Dari yang ku amati dan setelah percakapan basa basi, Riqza adalah mahasiswa berprestasi yang saat ini sedang menjadi asisten dosen. Keberadaannya dirumah ini tidak lebih karena perintah dosen pembimbing gadisku yang meminta mereka untuk bekerja sama. Sikap gadisku yang berbeda pada Riqza memang sempat membuatku heran, namun tidak membuatku membuat kesimpulan saat itu. Sehingga, aku tetap pada rencana awal, menyatakan keinginanku padanya secepatnya. Aku masih tidak ingin pulang ketika Riqza sudah pulang dan bulan pun telah berada pada puncaknya. Dia menggampitku, mengajakku ke balkon, tempat biasa kami bertiga; aku, dia dan Wendi menghabiskan waktu bersama, berbagi tentang dunia yang kami geluti. Tangannya masih saja melekat dilengan saat kami bersama menatap bulan, saat itu mataku teralih pada satu lekukan indah sehingga tanpa aku sadari, kepalaku dengan sendirinya mengarah pada bibirnya yang merah merona. Dia membalas tatapanku, kami mendekat sehingga aku mendengar deru napasku sendiri diwajahnya. Tiba tiba tangan halusnya melepaskan lenganku, mendorongku dan menyadarkanku dengan satu kali pukulan diwajahku. Aku terkesiap saat itu, dia menatapku dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya “kamu mau apa tadi Ja?”. Aku tak mampu membalas tatapan matanya “aku, aku hanya, hanya terbawa suasana. Begini maksudku” aku tak bisa melanjutkan penjelasan tentang hati ketika dia langsung menyeret tanganku untuk duduk “Jelaskan maksud kamu”. Sikap memaksanya membuatku perlahan mencari kata kata yang pantas untuk menyatakan keinginan “begini, Vie. Aku, aku, aku hanya ingin kita terus bersama”. Mata indahnya semakin memancar “bukankah selalu begitu”. “tapi berbeda, AKU INGIN HIDUP DENGANMU, AKU SAYANG SAMA KAMU. AKU CINTA SAMA KAMU”. Aku berteriak memamerkan perasaanku. Dan sekali lagi, pukulan itu mengarah padaku, matanya tidak lagi segarang tadi, aku melihat samar matanya ingin mengatakan kecewa “Ja, kenapa bisa begini. Ada apa ini. Aku juga mencintai kamu, tapi bukan dengan cara ini”. Aku menunduk “aku juga tidak tahu kenapa begini, yang aku tahu aku sudah lama mencintaimu dengan berbeda sejak lama”.
*****
Aku ingat akhir dari malam itu, akhir yang menyisakan kebisuan antara kami. Dia tidak menolakku untuk selalu hadir dalam hidupnya, dia hanya menolakku dengan diam, dengan perlahan menjauhiku dan mendekatkan dirinya dengan Riqza. Hingga suatu ketika, dia hadir kembali menyatakan berita pernikahannya dengan asisten dosen itu. “Aku akan menikah, aku harap kalian hadir saat Ijab Kabul ku” begitu katanya didepanku dan Wendi, ketika kami bertemu di tempat biasa kami menghabiskan waktu bersama. “jadi Vie, kamu beneran menerima nya, wah wah wah nggak sia sia konsultasi dengan aku yah” celoteh Wendi. Sejak peristiwa terbongkarnya perasaanku, ada jarak yang hadir diantara kami, sehingga dia lebih nyaman menghabiskan waktu dengan Wendi, bercerita tentang segala sesuatu yang dia inginkan, yang dulu selalu dibagi bersamaku.
*****
Aku masih mengikuti proses demi proses kehidupannya; menikah, hamil dan menemaninya ketika waktu persalinan tiba. Aku menatapnya saat dia akan masuk ruang operasi, matanya tersenyum padaku dan mengatakan “ini yang kutunggu, bayi”. Aku mencoba untuk tetap bersama Riqza diruang tunggu, berusaha menghibur lelaki itu bahwa semua akan baik baik saja. Namun, sudut terdalam hatiku tak bisa berbohong bahwa aku tidak kuat melihat semua ini, menunggu gadis yang kucintai meregang nyawa dan aku bersama lelaki yang dicintainya. Aku pamit pulang dengan alasan ada yang lemburan kantor yang lupa belum aku selesaikan. Dan sejak itu, aku pun menghilang darinya. Melepasnya dengan tidak menemuinya lagi. Ini merupakan kerumitan yang sulit untuk dihadapi, bagiku bersamanya seperti membunuh hatiku perlahan. Bagaimana bisa aku mengizinkan dia bahagia sedangkan aku merana sendiri.
*****
Aku ingin seperti dulu, bisa bercengkrama dengannya sepanjang hari, mengobrol tentang dunia yang memiliki cerita tiada habisnya. Tetapi, pertemuan kami kali ini menjelaskan jarak yang terbentang setelah putus hubungan. Aku memang tidak pernah menghubunginya lagi setelah masa persalinan yang dilewatinya dua tahun yang lalu. Aku menjauhkan diri dari kehidupan bahagianya, mengetahui bahwa dia sudah mendapatkan yang diinginkannya sudah cukup bagiku.
Dan kali ini, aku memutuskan membuka luka lama bukan hanya karena ancaman yang disampaikan Wendi lewat telpon. Tetapi, karena telpon Riqza saat aku berada di Medan untuk menyelasaikan proyek yang sedang aku jalankan. “Assalamu’alaikum, ini nomer hapenye Rinjani” begitu suara ditelpon menyapaku. “Iya, saya sendiri. Bisa dibantu?” jawabku pada orang yang aku pikir akan menjadi calon klienku. “Ja, saya Riqza. Suami nya Vien. Masih ingat nggak Ja?”. Pernyataannya mengatakan masih inget nggak membuatku tersentak, kata-kata yang mengingatkanku bahwa aku telah melupakannya. Aku sempat terdiam sesaat dengan perasaan bersalah sehingga diseberang sana memanggil-manggilku dengan suaranya yang mendayu “Ja, Ja. Halo halo!!”. “Ya, saya disini Riqza. Tentu saja saya ingat. Ada apa ini, kok tiba-tiba menelpon. Apa kabar Vien?”. Aku mendengar napasnya yang mendesah berat, seolah melepaskan beban yang ditanggungnya “sebenarnya Vien meminta saya menghubungi kamu Ja. Dia cerita banyak tentang kamu dan dia butuh kamu saat ini, datanglah”. Saat itu, aku merasa seperti seorang murid yang ketahuan bolos oleh gurunya, benakku bertanya apa yang dikatakan oleh Vien tentang aku pada suaminya. “Saya sekarang di Medan, minggu depan baru pulang” dalihku. “Ja, tolonglah. Ini mungkin kesempatan terakhir nya dan kamu untuk bertemu. Tolonglah, demi Vien. Aku mohon dengan sangat”. Riqza memohonku dengan halus, membuat perasaan bersalahku membengkak. “Baiklah, akan saya usahakan sebisa mungkin”. Aku mendengar senyum penuh harap diseberang sana ketika aku mengucapkan kalimat itu “Saya sangat berharap Ja. Terima kasih, terima kasih”. Aku terduduk disudut ruangan, mencerna setiap kalimat permohonan yang diajukan Riqza, Seolah Vien tidak akan ada lagi besok.
*****
Aku berdiri mematung didepan seorang wanita yang masih memamerkan lesung pipinya, dia tersenyum. Sennyum yang membawaku pada kehangatan mentari terbenam disore hari, senyum yang aku rindukan. Perlahan alat wicaranya memproduksi kalimat “Ja, kamu kemana aja selama ini. Dulu, kamu janji tidak akan pergi meski aku pergi”. “aku sudah disini Vien, maafkan aku” aku menahan tangis penyesalanku.
“jangan minta maaf Ja. Aku yang salah, aku nggak terdiam waktu itu. Ja, aku tidak pernah menolak cinta kamu, sedikitpun tidak pernah bisa menolak, bagaimana bisa menolak kehangatan yang sudah aku terima sejak kita kecil”. Aku memegang tangannya “cukup Vien, jangan dilanjutkan”. Dia menyelaku “tidak Ja, kamu harus tahu bahwa satu-satunya alasan aku tidak bisa terus bersama kamu adalah karena aku ingin bisa dipanggil ‘Mama’ “. Mataku langsung terarah pada sesosok batita yang tak lepas memelototiku. Aku tersenyum padanya seraya melihatkan genggaman tanganku dan ibunya dan ia pun menyunggingkan lesung pipinya. “Ja, aku capek” keluh Vien. “Ya, istirahatlah Vie”. “tidak Ja, sudah dua tahun aku begini. Aku kuat karena pahlawan kecilku itu. Tapi setelah ketemu kamu sekarang, aku sudah lega. Aku sudah meraih cita-citaku Ja”. Vien tampak bahagia dengan rasa sakit yang mengerogoti tubuhnya. Aku kehilangan kata-kata, aku hanya melepaskan genggaman tangan kami dan mengusap rambutnya yang semakin menipis. Pengaruh kemoterapi sangat cepat memberikan perubahan pada kulit, rambut dan tubuhnya. Riqza sebelumnya telah mengatakan padaku bahwa dampak kemo membuat Vien berbeda dan aku tak menyadari bahwa dampaknya setragis yang dilihat mataku; Kulit Vien mengelupas, rambut panjangnya dulu menghilang tergantikan helai rambut yang sekadar menutup kepala dan tubuhnya mengecil.
Vien perlahan tertidur, Riqza telah ditemani Wendi di ruang duduk. Mereka terpekur menatap bocah laki-laki yang menuju ke arah ku dengan tertatih. “MA” suara lantangnya mengejutkanku, ia memintaku untuk menggendongnya. Aku pun mengambilnya “Mama lagi tidur, adek sama tante aja ya?”. Ia tersenyum sambil meraba wajah dan rambutku.
Aku menghabiskan waktu sepanjang siang di rumah sakit kemarin, mengisi waktuku bersama bocah laki-laki itu. Sentuhan halus nya menghangatkan hatiku yang dingin. Batita milikVien mungkin belum bisa melafalkan kata-kata dengan artikulasi yang tepat kecuali ‘Ma’, tapi dengan bersamanya kemarin, aku mengerti akan satu kondisi bahwa aku dan dia sama-sama mencintai wanita yang sama. Wanita yang sedang memperjuangkan hidupnya, yang juga memiliki cinta yang sama. Satu yang aku ketahui bahwa aku tidak perlu memilikinya utuh. Aku sudah bahagia melihat dia bahagia telah dipanggil ‘Ma’.
Sabtu, 13 Juni 2009
KITA
kita mungkin satu tujuan
kita mungkin satu persepsi
kita mungkin satu kondisi
kita mungkin satu
kita kaya karena bersama
kita miskin karena bersama
kita ada karena kita
kita bisa saja berbeda
kita bisa saja bersebrangan
kita bisa saja salah
kita bisa saja tak satu
kita bisa saja mendua
kita bisa saja bisa
kita ada untuk kita
kita hadir untuk cinta
kita bersama untuk satu
kita hidup untuk berbagi
kita hanya kita
perpaduan aku, kamu, dia dan semua
MASIHKAH ADA "MENGAPA"
Jika semua memang selalu tentang kita
Menanti Shubuh
“Akan kah ku nikmati Subuh-Mu kembali” suara hati dzatu berseru lagi malam ini ketika tubuhnya telah terbalut selimut menuju lelapnya malam.. Malam – malam yang terbiasa Ia lewati dalam kesendirian, bertemankan suara alam malam hari dan buku penghantar tidur. Hanya mata yang mampu bercerita tentang isi buku, tidak seperti dulu ketika ada seorang ibu yang setia menceriterakan kehidupan yang belum diketahuinya.
***
”Belum Saatnya, hanya Sang pemilik waktu yang maha tahu. Aku sudah merasa bersyukur seperti sekarang, utuh sebagai manusia. Tolong jangan lagi ada ”kenapa” mengenai pendamping hidupku, semua pasti ada waktunya” Jawaban tersebut lebih sering mengambang tak terucap ketika sanak saudara atau teman lama bertanya ”kenapa sih kamu belum menikah,Dza?”
hatinya menangis perih setiap pertanyaan itu hadir disertai sikap orang-orang yang menyalahkannya karena belum menikah. Sikap antipati pada pertemuan kerabat pun Ia pilih untuk menghindari keterpurukan diri.
Ia memilih terpekur dalam diam, menanti subuh dan bersujud mengadukan keluh kesah yang tak bisa dibagi pada dunia. ”Dimana engkau, bu. Aku merindu dikala engkau mengatakan pada semua orang yang bertanya bahwa indah itu datang pada waktunya, karena Allah swt saat ini sedang menunda jawaban doa atas jodohku” dzatu hanya mampu merintih dalam hati memanggil nama sang Ibu ketika Al-Fathihah telah dipanjatkan untuknya.
***
Hidup itu pilihan, menjalaninya dengan tetap pada satu tempat atau bergerak, layaknya sepeda yang harus dikayuh terus untuk sampai tujuan. Begitu pula Dzatu, gadis manis berlesung pipi yang memilih mengabdikan diri sebagai guru untuk anak-anak kurang mampu, meninggalkan jabatan yang sempat Ia kecapi selama sepuluh tahun. Jabatan yang membawanya pada satu titik kejenuhan hidup dan kerugian yang nyata, yang tentunya tanpa dapat mengerti arti sebenar dari puas.
Semenjak kepergian Ibu yang mendadak tiga tahun yang lalu,. Ia tertampar kenyataan bahwa benar sekarang Ia sendiri, meski silsilah menunjukkan ada runtutan nama yang dikategorikan keluarga; dua kakak yang telah memiliki dunia sendiri, meramu cerita hidup berbeda. Sedang Ia, merasa hanya Ibu sebagai keluarga utuh. Tak terganti namun tak bisa pula Ia sejalan dengan wanita sabar petutur halus yang hingga akhir selalu memberikan wejangan hidup.
”Sesungguhnya engkau anakku, bukanlah milikku, engkau adalah milik masa depan[1]. Aku tak mampu melihatmu tetap sendiri sedang peristrahatan telah menunggu jasadku” penuturan halus lah yang selalu terucap dari mulut Ibu, kata – kata penuh makna yang tak mampu mengolah sikap Dzatu. Ia tetap sibuk dengan urusan duniawi, mengejar tumpukan harta yang diincar dan menargetkan jumlah pasti dalam tempo tertentu. Bentuk merealisasikan impian bahwa uang dapat dan akan mengatasi masalah, mengangkatnya dari dasar ke permukaan, serta menguasakan nama atas sesuatu yang diinginkan.
***
31 tahun, angka suatu kemapanan telah dapat teraih pastinya. Namun tidak baginya, lagu bersama Ibu silih berganti bermain dalam pikirannya. Menghadirkan rasa kecamuk bahwa Ia seutuhnya gagal, kenangan dikala Ibu merangkai kata tentang kesuksesan sejati hadir kembali, satu persatu kalimat itu terngiang seolah Ibu memang sedang bicara padanya saat ini.
”bahagia itu datangnya dari dalam dirimu, nak. Bagaimana engkau menerapkan rasa puas nafsu dalam bentuk syukur. Itulah sejatinya yang harus kau raih” begitu Ibu selalu berkata dan berpendapat bahwa kita memang butuh harta untuk hidup namun bukan berarti hidup ini hanya untuk harta.
”pesan Ibu bacalah Al-Quran berserta hadits dan amalkan lah, belajar tentang hidup dari kitabNya karena semua zaman telah terangkai rapi, kitab Nya merupakan wujud dari perpustakaan dunia dan akhirat, nak”
***
Ia menangisi keadaan, kedua matanya yang kecil tak mampu menahan gejolak batin. ”aku harus kuat, harus tegar” kata-kata tersebut terus menemaninya seraya menguatkan hati namun rasa kehilangan benar-benar membuatnnya kalah.
”Ibu, maafin dzatu bu, maafin dzatu”.
Tiga tahun sudah dan permohonan maaf itu masih diikuti derai tangis, rasa kecewa akan sikap dirinya sendiri dimasa lalu terus membayangi jiwa. Namun, kanvas kemarin telah terlukis, tak mungkin bisa dihapus.
Ia memang telah bangkit, memunguti satu persatu rangkaian puzzle yang dulu tak bisa menyatu karena sikap keras kepalanya, mengingat pesan hidup sang Ibu.
Ia menjilbabi hati dan sikap, memulai lagat pagi menjelang subuh dengan senyuman seraya bersyukur bahwa hari ini masih ada mentari untuk nya, menghangatkan raga dikala embun pagi masih menutup penglihatan.
Ia mulai bersiap untuk berangkat setelah memanaskan mesin mobil dan memasukkan buku-buku hasil sumbangan para dermawan. Perjalanan Semarang – Salatiga memang biasa Ia tempuh sendiri, niat untuk memberikan ilmu memang telah tertanam dalam dirinya, memunculkan rasa puas sebenarnya ketika Ia bisa melihat anak-anak tersenyum setelah berhasil menguasai bahasa Inggris tingkat dasar, setidaknya untuk membalas mengucapkan Your Welcome.
***
Ia memarkirkan Mobilnya didepan bangunan sederhana bercat full colour, nuansa ceria untuk menyemangati kegiatan harian. Bangunan sekolah yang berdiri dari hasil uang pesangon, yang juga dapat menggerakkan beberapa tenaga untuk memberi ilmu pada anak-anak yang kurang beruntung. Sekolah ini berbasiskan pada ilmu akhlak dan penerapan bahasa bilingual; anak-anak pun dapat memperoleh pesan hidup dari definisi sederhana. Dzatu merupakan kepala sekolah dan merangkap sebagai story teller, Ia memberikan pelajaran tentang isi hidup dan kehidupan secara menyeluruh terutama berkaitan dengan ilmu akidah, yang ditanamkan kepada murid-muridnya selama berada di kelas. Murid-murid tersebut secara keseluruhan berjumlah sekitar delapan puluhan dan berasal dari skala umur berbeda; antara 5 hingga 15 tahun, yang diberi kelas yang berbeda pula dengan waktu yang bergantian, karena keterbatasan jumlah pembimbing yang hanya empat orang, termasuk Dzatu. Maka tak heran jika Dzatu terbiasa melewati Maghrib dimushola atau mesjid yang Ia temukan ketika diperjalanan menuju pulang
”Al Falaq – Lunggi’s inspiration”
(Selalu Ada Untuk Mu)
Nama sekolah yang Ia pilih karena terinspirasi dari rasa cinta sang Ibu pada Subuh. Sekolah yang tiga tahun terakhir ini memompa kepercayaan diri anak-anak kurang beruntung dan orang tua mereka. Sejatinya dzatu ingin bahwa tidak akan ada anak yang merengek meminta uang kepada orang tua nya untuk sekedar melunasi SPP sebesar dua ribu lima ratus rupiah dan tidak akan ada pula berita utama tentang percobaan anak kecil gantung diri karena ikut memikul beban hidup tanpa kehendaknya.
***
”Assalamu’alaikum warrohmatullahi wabarokatuh, anak-anak. Good morning kids”.. dzatu membuka obrolan kelas dengan ciri khas nya. Senyuman hangat dipagi hari menyemangati cakrawala yang berteman sepi. ”Nice Monday ya kids, hari ini kita akan membahas tentang orang yang diidolakan”
”Saya punya mam, Ayah. He is a great boy i ever had ” ungkap siska, salah satu dikelas yang langsung tertarik setelah mendengar topik hari ini”
“You mean a great man, siska. mmmm, kamu pasti sayang ya sama Ayah. Please tell us about him”
”Ya, siska sayang sama Ayah, Ayah yang ngajarin siska baca, Ayah yang membujuk siska kalo siska ngambek dan Ayah juga yang biasanya bertanya ada apa siska?. Ayah nggak mau ngeliat siska nangis, kalo ayah nguli diluar
Benak Djatu terbang, ragam pendapatnya menari membatin ’bagaimana bisa bocah berumur 6 tahun saja bisa menerima kepergian sang Ayah dengan legowo, tapi aku selalu menyalahkan Sang Khalik karena merenggut yang kucintai tanpa pamit’
”Mbak, Mbak!! Mbak Djatu kok ngelamun”. Siska membuyarkan semua kecamuk pikiran Djatu. “mmm ada, ada, kenapa sayang? Mbak hanya teringat sesuatu setelah denger cerita kamu”
”bukankah suatu pertemuan itu ada akhir ceritanya, mbak! Sama seperti cerita dongeng yang akhirnya bikin kita-kita nangis atau ketawa seneng ya? Mama selalu bilang gitu habis bacain dongeng sedih atau suka”
Dzatu selalu merasa terpesona dengan pengungkapan sederhana Siska dalam menerjemahkan hidup, Ia tersenyum seraya mengelus pipi mulus bocah itu ”Ya, dan selalu pasti ada perpisahan, anak-anak. Kita harus” ucapan Djatu tercekat, mengetahui bahwa Ia tidak bisa memberikan wejangan yang Ia sendiri belum bisa lakukan. Wejangan yang hanya bisa dikatakan dalam hati, tak terucap ’harus seharusnya ikhlas, menyerahkan semua pada Sang Pemilik Raga’
”ok, mmm, ya, mbak pengen kalian tulis siapa idola kalian, dan yang kalian pelajari dari sang idola. Mbak kasih waktu 20 menit buat dikumpulin ya!” Dzatu bergegas keluar menuju toilet setelah berhasil menata emosinya didepan murid-muridnya dengan mengalihkan wejangan ke tugas menulis.
***
Waktu telah menunjukkan sore hari, Dzatu bergegas menyiapkan diri agar bisa tiba dirumah setidaknya sebelum Isya. Mobil toyota harrier, hasil kerja kerasnya dulu pun bersiap melaju dalam kebisingan..
”bukan Ibu yang gagal mendidikku sebagai anak, tetapi aku yang telah memilih belokan jalan yang keliru,bu” ia mengingat betul bagaimana didetik terakhir sang ibu meminta maaf karena tidak berhasil membimbing dzatu dijalan Nya; ”Ibu telah gagal, nak. Bahkan untuk meminta disedekahi Al Fathihah saja Ibu malu”
”bu, tanpa Ibu pinta pun Dzatu akan memenuhi ingin Ibu”. Kejadian siang hari bersama Siska menghadirkan lintasan ragam cerita masa lalu, slide-slide penyesalan berpendaran mengisi kekosongan pikran Dzatu. Kerinduan mendalam akan sosok Ibu mendera Dzatu,memudarkan konsentrasi mengemudi. Siska turut merasakan kerinduaan pada sang Ayah dalam nuansa yang jauh berbeda; Dzatu dengan memoir kesalahan, sedangkan Siska mengisi kerinduan akan Ayah dengan hari lalu yang indah dan harapan akan pertemuan dimasa mendatang.
”Dzatu kangen, bu.. kangen, Ibu dimana” teriakan itu tidak mampu keluar, tersendat di tenggorokan. Malu melawan hati kecil Dzatu yang malu, malu pada kedewasaan bocah seumur Siska dalam menghadapi kehilangan.
Harrier terus melaju dengan kecepatan yang tak terkirakan Dzatu dan terhenti oleh Adzan Maghrib yang mengema, terhenti dipersimpangan jalan yang memiliki sebuah Mushola ringkih yang masih mampu berdiri . Dzatu tak menyadari Ia dimana, Ia hanya terpesona dengan merdunya suara sang Muadzin di Mushola kecil ini, Ia hanya tau bahwa Ia berada di suatu tempat asing yang mengenalkannya pada kedamaian. Ia terperkur lama, tanpa menyadari bahwa Ia melupa akan kenangan. Perlahan Ia menapakkan kakinya, memasuki pelataran mushola ”Assalamu’alaikum” ragu Ia mengucap salam pada warga yang menatapnya heran. Mereka menengok takjub karena ada sosok wanita cantik yang bersedia masuk dan ingin sholat di Mushola ini, sedangkan jarak beberapa meter terdapat Mesjid megah. ”Wa’alaikumsalam” sapa Ibu separuh baya yang langsung mencairkan tatapan aneh para warga ”dari mana,nak? sudah wudhu?” Dzatu terkesiap karena ujaran ’nak’ yang digunakan Ibu sepuh itu membawanya kembali pada silam, Ia pun terbata ”mmm, sa, sa, saya dari Salatiga bu,sudah tadi bu. Tadi sebelum berangkat pulang, saya sudah wudhu dikantor. Maaf, Ini di mana ya bu?”
”lho kok nanya seperti itu nak? Bukankah harusnya tau ini dimana”
”sayangnya selama kurang lebih tiga tahun saya bolak balik Semarang-Salatiga saya tidak pernah melewati daerah ini dan saya juga tidak tau kenapa saya bisa disini, yang saya tau alunan suara Muadzin membuat saya berhenti”
”subhanallah,hanya Allah yang maha tahu semua rencana nak”. Dzatu mengiakan dengan mengucap syukur.
Seperti Maghrib biasanya, setelah selesai sholat berjamaah Ia merapikan mukena dan beranjak melanjutkan perjalanan. Namun, tangan sepuh menahannya ”nak, tinggallah hingga Isya, akan ada” belum sempat Ibu tersebut melanjutkan, seorang pemuda yang berdiri dimimbar memberi salam ”Assalamu’alaikum saudara-saudara ku”. Mata dzatu terhenti pada sosok yang menenangkan dihadapan hadirin. ”Alhamdulillah, kita dapat berkumpul lagi disini dan telah melaksanakan sholat berjamaah, mungkin ada beberapa saudara-saudara yang ingin berbagi seraya kita menanti isya”
Dzatu melihat ke sekeliling, terpana karena jumlah makmum dimushola mulai bertambah semenjak pemuda dimimbar membuka obrolan. Dzatu tidak tahu pasti siapa pemuda itu, Ia cukup tua untuk disebut santri dan tak cukup tua pula untuk disebut ustadz. Ia tak terlihat seperti seseorang yang sedang dalam proses menimba ilmu agama, tapi Ia terlihat seperti seseorang yang kaya pengalaman hidup, matanya memancarkan ragam pengetahuan yang sempat Ia cicipi; menyelaraskan ilmu dunia dengan tataran agama.
”Assalamu’alaikum ya musafir” demikian Dzatu mendengar seorang warga yang menyapa pemuda dmimbar tersebut ’musafir’. ”wa’alaikumsalam, bung. Silakan kalo
mau berbagi”
”saya yo ndak tau mau mulai darimana, saya yo bingung dengan diri saya” warga yang berperawakan masih bugar tersebut memulai dengan menggunakan bahasa Indonesia logat jawa yang terbata-bata, mengisyaratkan bahwa ’musafir’ yang sebagai pendengar tidak paham bahasa Jawa ”harusnya yo wong jowo iku nerimo, tapi saya kok nggak iso yo musafir?, saya yo nyoba, tapi yo piye? Kayak e kok semua malah jadi kacau, mulai dari kehidupan dirumah, ya saya bertengkar terus dengan istri, saya tau istri saya ya tidak apa-apa kalo saya belum bisa banyak ngasi rezeki, tapi saya pengen lebih, pengen bisa bikin lebih bahagia. Terus yo kita ribut karena beda pendapat. Musafir, dasar nerimo iku opo to? pasti ono to?”
Musafir tersenyum mendamaikan, bukan nada mengejek tapi hanya menyatakan bahwa semua ada jalan keluarnya dan Ia pun berujar ”semua orang punya cita-cita, semua orang berhak bermimpi, semua orang pasti punya harapan dan memiliki cara menuju harapan tersebut. Tapi apakah itu cukup setelah punya cita-cita dan cara, dan memang setiap hal punya dasarnya, sebagai umat muslim kita hendaknya berpegang pada kitab suci, kita hendaknya bisa menerapkan sesuai syariat Nya”. Seisi ruangan terdiam, mereka hanya termenung terbawa pikiran masing-masing, dan sayup suara Dzatu yang hanya berupa bisikan mencela memecahkan sepi, terdengar oleh Musafir ”bagaimana?”
Serta merta Musafir menoleh dan menanggapi Dzatu ”bagaimana,mbak? bisa diulangi?”
”oh, maaf. Saya tidak bermaksud bertanya atau bahkan menanggapi”
”tidak apa-apa, mbak. Silakan”
”Maaf sebelumnya, saya bukan warga sini dan saya tadi hanya jadi makmum Maghrib, jadi saya pikir saya tidak pantas berada disini” Dzatu berusaha mengelak pernyataan bisikannya tadi namun sang musafir mengerti arahan tuturan Dzatu
”ya, kalo begitu saya mengerti. Pertama untuk mbak ketahui bahwa disini kita membuka obrolan tentang hidup dan kehidupan. Tidak harus menjadi warga sini dulu kalo memang mbak mau berbagi dengan kami, Saya disebut musafir juga karena saya adalah seorang musafir sama halnya dengan mbak, kegiatan ini dilakukan semenjak beberapa minggu yang lalu dan saya hanya sebagai moderator saudara-saudara saya ini. Mungkin cukup untuk perkenalan kegiatan ini”. Perkenalan singkat itu dibubuhi oleh seorang waga yang menyeletuk ”ndak apa-apa kalo mbak mau cerita, bukankah semua umat muslim itu bersaudara dan sebagai saudara sejatinya kita saling menopang”
Dzatu masih mencerna setiap pernyataan yang diterimanya, Ia hanya bergumam dan diam dan kemudian Ia memberanikan diri dengan masih diselimuti rasa was-was ”saya tidak mengerti dengan penerapan yang dimaksudkan musafir” dzatu tertunduk malu ”saya, saya bergerak dibidang sosial. Mengajar untuk anak-anak kurang mampu, pada dasarnya yang memotivasi saya melakukan itu karena rasa bersalah pada Ibu saya. Dulu, saya wanita yang sibuk dengan urusan keduniaan. Saya sibuk mengejar karier untuk menumpuk harta. Hingga urusan sosial saya acuhkan. Ibu saya, sebelum meningal, sempat menyatakan kecewaannya secara implisit bahwa tidak hanya materi yag perlu dikejar. Berdasar pada itulah, saya bekerja membantu anak-anak kurang mampu tersebut. Tapi, sekarang saya ragu setelah mendengar pernyataan Musafir. Saya ragu benarkah saya?” dzatu masih menunduk sambil mengatur napas agar sedihnya tak tampak. Seisi ruangan yang sedari tadi memperhatikan Dzatu tampak bingung. Sebagai orang pedesaan yang kurang pendidikan mereka tak menyangka ternyata seseorang yang tampak sempurna dipermukaan,dapat pula memendam kekurangan. Begitu naif hidup ini, setiap manusia selalu merasa tak puas, dan mungkin memang begitu lah seharusnya, apalagi menyangkut agama. Toh, ketidakpuasan merupakan salah satu jalan menuju menjadi pribadi yang lebih baik.
Musafir hanya tersenyum, memecahkan keheningan yang tercipta sejenak ”setiap orang
pernah merasakan kehilangan, dalam bentuk kecil ataupun besar. Mungkin akan mudah tergantikan jika yang hilang itu adalah benda mati yang bisa dicari gantinya. Sedangkan, orang yang telah menghadap Maha Kuasa tak mungkin tergantikan apa pun. Setidaknya kita memiliki satu hal, kenangan”. Dzatu perlahan menatap wajah teduh sang Musafir yang masih meneruskan dan menatap Dzatu ”penerapan yang tadi saya maksud adalah bahwa kitab suci yang sering kita baca dengan benar tidak hanya sebagai sesuatu yang suci dan yang dilindungi. Kita ketakuatan setengah mati jika Al Qur’an diperlakukan tak pantas, sehingga kita akan mencium covernya dan beristighfar jika Kitab tersebut terjatuh. Bukan hanya perlakuan seperti itu, tapi penerapan yang sesungguhnya berkaitan yang telah diajarkan Al Qur’an. Jika memang kita telah dapat membaca, maka cobalah menerapkan isinya. Saya, disini, tidak bisa menghakimi sikap mbak benar atau tidak. Mungkin sesama saudara seiman, saya hanya dapat berpesan bahwa setiap hal yang kita dilakukan hendaknya berawal dari lubuk hati kita, sehingga ketulusan pun ada. Sesuatu hal hanya dapat disebut bernilai dan baik jika memberikan manfaat bagi semua orang; tidak hanya untuk satu pihak saja”
Dzatu mencoba menatap mata musafir yang berkata sungguh-sungguh ”terima kasih, saya mengerti maksudnya. Saya tau motivasi saya selama ini yang melenceng dari seharusnya, saya melupakan peran Sang Pemilik Jagad Raya. Saya tidak mendapat apa-apa semenjak meninggalnya Ibu tiga tahun lalu, Saya malah terus meratapi diri. Terima Kasih,Musafir”
”ini semua rahasia Allah, kita semua berjodoh bertemu disini. Ditakdirkan untuk saling berbagi. Berucap Syukurlah pada Nya, mbak. Saya ini hanya hamba, sama seperti saudara-saudara semua”.
Dzatu sesenggukan dan mengangguk ketika pamit pulang, tak henti-hentinya Ia merundukkan kepala menyatakan terima kasih yang mendalam. Percakapan hari ini bersama Siska dan pertemuannya dengan Musafir memberikan kesimpulan hidup yang telah lama Ia cari. Dzatu tahu apa yang sesungguhnya Ia nanti dari Shubuh. Ia tak lagi menunggu Shubuh tuk mengadu kan hati pada Ibu yang telah bersemayam, melainkan mengawali hari barudengan mendendangkan Ayat-ayat Cinta milik Nya dan perlahan namun pasti membawanya dalam kehidupan.