Selamat Datang di Zona lingkup kehidupanku

Selasa, 16 Juni 2009

MA!!!!

Tubuhnya kini tergolek lemas di ranjang, lesung pipi masih menghiasi manisnya senyum nya ketika dia melihat kedatanganku. Semangat nya masih berbinar binar meskipun terlihat jelas wajahnya tak mampu menopang dampak penyakit yang bersemayam dalam tubuhnya. Aku mengingat dengan jelas keangkuhanku ketika Wendi menghubungiku lewat telpon, menjelaskan apa yang terjadi pada wanita yang aku cintai. “Halo Ja, apa kamu masih ada disana? Ja, Ja?? Aku tetap saja tidak mendengar pekikan kemarahan wendi saat itu, aku hanya mampu menyahut “Ya”. Wendi menghela napas “aku tahu kamu marah, aku tahu yang kamu rasakan. Tapi Ja, apa kamu nggak inget kita adalah sahabat sampai kapanpun, jika satu sakit maka semua ikut sakit”. Aku ingat aku tersenyum sinis saat Wendi mengingatkanku janji yang dulu kami nyatakan bertiga “Ah, itu kan dulu. Sekarang jelas beda”. Diseberang telpon, aku mendengar nada geram Wendi yang biasa dia lakukan ketika darah kemarahan sudah mencapai ubun-ubunnya “DULU?? JA, HANYA KARENA CINTA MU DITOLAK BUKAN BERARTI KAMU BISA MENGHAPUS JANJI ITU” Kalimat penuh penekanan itu pun berlanjut dengan melemahnya suara nya “terserah kamu saja Ja, tapi jangan salahkan aku kalo kamu nggak sempet ketemu dengannya. Pentingkan saja egoismu itu”. Aku tak sempat berkata kata karena suara Wendi telah tergantikan dengan nada telpon.
Aku terduduk diam saat itu, tak bisa aku lupakan bagaimana besarnya rasa yang aku miliki untuk satu wanita semenjak tali persahabatan itu dikokohkan. Mungkin seperti impian Nobita yang berharap akan mendapatkan Shizuka dalam kisah Doraemon, seperti itulah aku. Aku mengharapkan dimasa depan, aku memilikinya dalam ikatan yang lebih dalam. Wendi, Aku dan Dia berteman sejak kami dibangku TK, jarak rumah aku dan dia yang berdekatan memberikan kami banyak waktu untuk selalu menghabiskan waktu bersama. Aku tidak pernah merasakan bahwa kesalahanku adalah mendefinisikan kebiasaan bersamanya sebagai cinta. Wendi memang bodyguard bagi kami, karena dia yang paling kuat. Tapi kondisi membuat aku selalu menjaganya, wanita terlemah dalam kelompok kami. Tidak ada yang menyangka persahabatan kami terus berjalan hingga masa kuliah selesai, persahabatan yang tidak diisi dengan kehadiran pihak ketiga yaitu Pacar. Mungkin pengecualian ini tidak berlaku bagi Wendi, yang selalu berganti pasangan dengan alasan yang mendukungnya “sebelum menikah, aku harus menyeleksi calon istriku”. Ketika Wendi sibuk menyeleksi pasangan hidupnya, saat itu pula keberadaanku untuknya semakin intens. Kami melewati hari bersama, setiap hari aku melewati kawasan Gombel untuk turun kedaerah bawah, menjemputnya dikampusnya. Kami kuliah di universitas yang sama, Dia kuliah di Ekonomi yang berada di daerah bawah dan aku kuliah di Arsitektur yang berlokasi didaerah atas. Jarak kampus kami memang berjauhan, tapi hal ini tidak mempersulit hubungan kami. Tidak ada yang bisa membuat kami berpisah, aku selalu berangkat kuliah bersamanya, jarak rumah kami yang berdekatan dan lokasi kampusnya yang selalu kami lewati cukup menjadi alasan untuk kebersamaan kami yang tidak terpisahkan. Aku terus ada untuknya, akan terus menjaganya kapanpun dan dimanapun. Entahlah, Aku tidak tahu mengapa dia ‘seorang wanita tercantik’ dimataku, yang memiliki lesung pipi mempesona dan rambut hitam panjang sebahu, tidak memiliki orientasi untuk memiliki pacar. Aku mengetahui beragam jenis lelaki yang mendekatinya dan menawarkan beragam cinta untuknya, namun tampaknya dia tak dapat digubris atau tersentuh sedikitpun. Dia hanya pernah berkata “Aku lebih senang bersamamu, Ja. Daripada bersama pria ga jelas. Kamu tahu kan, kita sudah punya Wendi yang nggak bisa diatur, bagaimana aku bisa jalan sama para pria sejenis Wendi. Lebih baik bersamamu” dan Dia tersenyum indah penuh makna. Aku mengartikan pernyataannya sebagai suatu rasa bahwa Dia senang bersamaku dan akan selalu begitu “tidak ada lelaki” desahku dalam hati. Keakraban yang terjalin diantara aku dan dia menimbulkan kegelisahan tersendiri bagiku, bertahun tahun aku memendam perasaan bersalah dan cinta, bertahun tahun aku menolak keberadaan orang lain, hanya untuknya. Hingga pada suatu ketika, saat aku dan dia disibukkan oleh tenggat waktu penyusunan skripsi, yang menyita waktu kebersamaan kami. Waktu itu, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan padanya. Aku berada dirumahnya saat sore itu, dari luar aku mendengar gelak tawa nya yang tak biasa, dia tampak bahagia. “Assalamu’alaikum” sapaku dari luar untuk kedua kalinya. Intonasi suara yang menjawab salam bercampur dengan gelak tawa “Wa’alaikumsalam”. Dia terperanjat ketika melihatku berdiri mematung dipintu yang setengah terbuka “Ja, kamu. Ya Ampun kenapa ga masuk aja kayak biasa”. Gelagatku yang malu-malu memang seperti copet yang baru saja memasang niat untuk beraksi. Aku masuk ketika diruang tengah aku melihat seorang lelaki berkulit putih bersih dan memiliki lesung pipi yang sama manisnya tersenyum ramah padaku. Baru pertama kalinya aku melihat keberadaan lelaki asing di rumah ini, tentunya selain Wendi. “Ja, kenalkan ini kakak kelasku” katanya sambil tersipu yang beru ini aku lihat. “Rinjani” sapaku sambil menyodorkan tangan dan disambut oleh lelaki yang mengaku bernama “Riqza”. Niat awalku tertunda karena Riqza masih bersamanya, memberikan pengarahan tentang penulisan skripsi. Dari yang ku amati dan setelah percakapan basa basi, Riqza adalah mahasiswa berprestasi yang saat ini sedang menjadi asisten dosen. Keberadaannya dirumah ini tidak lebih karena perintah dosen pembimbing gadisku yang meminta mereka untuk bekerja sama. Sikap gadisku yang berbeda pada Riqza memang sempat membuatku heran, namun tidak membuatku membuat kesimpulan saat itu. Sehingga, aku tetap pada rencana awal, menyatakan keinginanku padanya secepatnya. Aku masih tidak ingin pulang ketika Riqza sudah pulang dan bulan pun telah berada pada puncaknya. Dia menggampitku, mengajakku ke balkon, tempat biasa kami bertiga; aku, dia dan Wendi menghabiskan waktu bersama, berbagi tentang dunia yang kami geluti. Tangannya masih saja melekat dilengan saat kami bersama menatap bulan, saat itu mataku teralih pada satu lekukan indah sehingga tanpa aku sadari, kepalaku dengan sendirinya mengarah pada bibirnya yang merah merona. Dia membalas tatapanku, kami mendekat sehingga aku mendengar deru napasku sendiri diwajahnya. Tiba tiba tangan halusnya melepaskan lenganku, mendorongku dan menyadarkanku dengan satu kali pukulan diwajahku. Aku terkesiap saat itu, dia menatapku dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya “kamu mau apa tadi Ja?”. Aku tak mampu membalas tatapan matanya “aku, aku hanya, hanya terbawa suasana. Begini maksudku” aku tak bisa melanjutkan penjelasan tentang hati ketika dia langsung menyeret tanganku untuk duduk “Jelaskan maksud kamu”. Sikap memaksanya membuatku perlahan mencari kata kata yang pantas untuk menyatakan keinginan “begini, Vie. Aku, aku, aku hanya ingin kita terus bersama”. Mata indahnya semakin memancar “bukankah selalu begitu”. “tapi berbeda, AKU INGIN HIDUP DENGANMU, AKU SAYANG SAMA KAMU. AKU CINTA SAMA KAMU”. Aku berteriak memamerkan perasaanku. Dan sekali lagi, pukulan itu mengarah padaku, matanya tidak lagi segarang tadi, aku melihat samar matanya ingin mengatakan kecewa “Ja, kenapa bisa begini. Ada apa ini. Aku juga mencintai kamu, tapi bukan dengan cara ini”. Aku menunduk “aku juga tidak tahu kenapa begini, yang aku tahu aku sudah lama mencintaimu dengan berbeda sejak lama”.
*****
Aku ingat akhir dari malam itu, akhir yang menyisakan kebisuan antara kami. Dia tidak menolakku untuk selalu hadir dalam hidupnya, dia hanya menolakku dengan diam, dengan perlahan menjauhiku dan mendekatkan dirinya dengan Riqza. Hingga suatu ketika, dia hadir kembali menyatakan berita pernikahannya dengan asisten dosen itu. “Aku akan menikah, aku harap kalian hadir saat Ijab Kabul ku” begitu katanya didepanku dan Wendi, ketika kami bertemu di tempat biasa kami menghabiskan waktu bersama. “jadi Vie, kamu beneran menerima nya, wah wah wah nggak sia sia konsultasi dengan aku yah” celoteh Wendi. Sejak peristiwa terbongkarnya perasaanku, ada jarak yang hadir diantara kami, sehingga dia lebih nyaman menghabiskan waktu dengan Wendi, bercerita tentang segala sesuatu yang dia inginkan, yang dulu selalu dibagi bersamaku.
*****
Aku masih mengikuti proses demi proses kehidupannya; menikah, hamil dan menemaninya ketika waktu persalinan tiba. Aku menatapnya saat dia akan masuk ruang operasi, matanya tersenyum padaku dan mengatakan “ini yang kutunggu, bayi”. Aku mencoba untuk tetap bersama Riqza diruang tunggu, berusaha menghibur lelaki itu bahwa semua akan baik baik saja. Namun, sudut terdalam hatiku tak bisa berbohong bahwa aku tidak kuat melihat semua ini, menunggu gadis yang kucintai meregang nyawa dan aku bersama lelaki yang dicintainya. Aku pamit pulang dengan alasan ada yang lemburan kantor yang lupa belum aku selesaikan. Dan sejak itu, aku pun menghilang darinya. Melepasnya dengan tidak menemuinya lagi. Ini merupakan kerumitan yang sulit untuk dihadapi, bagiku bersamanya seperti membunuh hatiku perlahan. Bagaimana bisa aku mengizinkan dia bahagia sedangkan aku merana sendiri.
*****
Aku ingin seperti dulu, bisa bercengkrama dengannya sepanjang hari, mengobrol tentang dunia yang memiliki cerita tiada habisnya. Tetapi, pertemuan kami kali ini menjelaskan jarak yang terbentang setelah putus hubungan. Aku memang tidak pernah menghubunginya lagi setelah masa persalinan yang dilewatinya dua tahun yang lalu. Aku menjauhkan diri dari kehidupan bahagianya, mengetahui bahwa dia sudah mendapatkan yang diinginkannya sudah cukup bagiku.
Dan kali ini, aku memutuskan membuka luka lama bukan hanya karena ancaman yang disampaikan Wendi lewat telpon. Tetapi, karena telpon Riqza saat aku berada di Medan untuk menyelasaikan proyek yang sedang aku jalankan. “Assalamu’alaikum, ini nomer hapenye Rinjani” begitu suara ditelpon menyapaku. “Iya, saya sendiri. Bisa dibantu?” jawabku pada orang yang aku pikir akan menjadi calon klienku. “Ja, saya Riqza. Suami nya Vien. Masih ingat nggak Ja?”. Pernyataannya mengatakan masih inget nggak membuatku tersentak, kata-kata yang mengingatkanku bahwa aku telah melupakannya. Aku sempat terdiam sesaat dengan perasaan bersalah sehingga diseberang sana memanggil-manggilku dengan suaranya yang mendayu “Ja, Ja. Halo halo!!”. “Ya, saya disini Riqza. Tentu saja saya ingat. Ada apa ini, kok tiba-tiba menelpon. Apa kabar Vien?”. Aku mendengar napasnya yang mendesah berat, seolah melepaskan beban yang ditanggungnya “sebenarnya Vien meminta saya menghubungi kamu Ja. Dia cerita banyak tentang kamu dan dia butuh kamu saat ini, datanglah”. Saat itu, aku merasa seperti seorang murid yang ketahuan bolos oleh gurunya, benakku bertanya apa yang dikatakan oleh Vien tentang aku pada suaminya. “Saya sekarang di Medan, minggu depan baru pulang” dalihku. “Ja, tolonglah. Ini mungkin kesempatan terakhir nya dan kamu untuk bertemu. Tolonglah, demi Vien. Aku mohon dengan sangat”. Riqza memohonku dengan halus, membuat perasaan bersalahku membengkak. “Baiklah, akan saya usahakan sebisa mungkin”. Aku mendengar senyum penuh harap diseberang sana ketika aku mengucapkan kalimat itu “Saya sangat berharap Ja. Terima kasih, terima kasih”. Aku terduduk disudut ruangan, mencerna setiap kalimat permohonan yang diajukan Riqza, Seolah Vien tidak akan ada lagi besok.
*****
Aku berdiri mematung didepan seorang wanita yang masih memamerkan lesung pipinya, dia tersenyum. Sennyum yang membawaku pada kehangatan mentari terbenam disore hari, senyum yang aku rindukan. Perlahan alat wicaranya memproduksi kalimat “Ja, kamu kemana aja selama ini. Dulu, kamu janji tidak akan pergi meski aku pergi”. “aku sudah disini Vien, maafkan aku” aku menahan tangis penyesalanku.
“jangan minta maaf Ja. Aku yang salah, aku nggak terdiam waktu itu. Ja, aku tidak pernah menolak cinta kamu, sedikitpun tidak pernah bisa menolak, bagaimana bisa menolak kehangatan yang sudah aku terima sejak kita kecil”. Aku memegang tangannya “cukup Vien, jangan dilanjutkan”. Dia menyelaku “tidak Ja, kamu harus tahu bahwa satu-satunya alasan aku tidak bisa terus bersama kamu adalah karena aku ingin bisa dipanggil ‘Mama’ “. Mataku langsung terarah pada sesosok batita yang tak lepas memelototiku. Aku tersenyum padanya seraya melihatkan genggaman tanganku dan ibunya dan ia pun menyunggingkan lesung pipinya. “Ja, aku capek” keluh Vien. “Ya, istirahatlah Vie”. “tidak Ja, sudah dua tahun aku begini. Aku kuat karena pahlawan kecilku itu. Tapi setelah ketemu kamu sekarang, aku sudah lega. Aku sudah meraih cita-citaku Ja”. Vien tampak bahagia dengan rasa sakit yang mengerogoti tubuhnya. Aku kehilangan kata-kata, aku hanya melepaskan genggaman tangan kami dan mengusap rambutnya yang semakin menipis. Pengaruh kemoterapi sangat cepat memberikan perubahan pada kulit, rambut dan tubuhnya. Riqza sebelumnya telah mengatakan padaku bahwa dampak kemo membuat Vien berbeda dan aku tak menyadari bahwa dampaknya setragis yang dilihat mataku; Kulit Vien mengelupas, rambut panjangnya dulu menghilang tergantikan helai rambut yang sekadar menutup kepala dan tubuhnya mengecil.
Vien perlahan tertidur, Riqza telah ditemani Wendi di ruang duduk. Mereka terpekur menatap bocah laki-laki yang menuju ke arah ku dengan tertatih. “MA” suara lantangnya mengejutkanku, ia memintaku untuk menggendongnya. Aku pun mengambilnya “Mama lagi tidur, adek sama tante aja ya?”. Ia tersenyum sambil meraba wajah dan rambutku.
Aku menghabiskan waktu sepanjang siang di rumah sakit kemarin, mengisi waktuku bersama bocah laki-laki itu. Sentuhan halus nya menghangatkan hatiku yang dingin. Batita milikVien mungkin belum bisa melafalkan kata-kata dengan artikulasi yang tepat kecuali ‘Ma’, tapi dengan bersamanya kemarin, aku mengerti akan satu kondisi bahwa aku dan dia sama-sama mencintai wanita yang sama. Wanita yang sedang memperjuangkan hidupnya, yang juga memiliki cinta yang sama. Satu yang aku ketahui bahwa aku tidak perlu memilikinya utuh. Aku sudah bahagia melihat dia bahagia telah dipanggil ‘Ma’.

Tidak ada komentar: