Selamat Datang di Zona lingkup kehidupanku

Sabtu, 13 Juni 2009

Menanti Shubuh

“Akan kah ku nikmati Subuh-Mu kembali” suara hati dzatu berseru lagi malam ini ketika tubuhnya telah terbalut selimut menuju lelapnya malam.. Malam – malam yang terbiasa Ia lewati dalam kesendirian, bertemankan suara alam malam hari dan buku penghantar tidur. Hanya mata yang mampu bercerita tentang isi buku, tidak seperti dulu ketika ada seorang ibu yang setia menceriterakan kehidupan yang belum diketahuinya.

***

”Belum Saatnya, hanya Sang pemilik waktu yang maha tahu. Aku sudah merasa bersyukur seperti sekarang, utuh sebagai manusia. Tolong jangan lagi ada ”kenapa” mengenai pendamping hidupku, semua pasti ada waktunya” Jawaban tersebut lebih sering mengambang tak terucap ketika sanak saudara atau teman lama bertanya ”kenapa sih kamu belum menikah,Dza?”

hatinya menangis perih setiap pertanyaan itu hadir disertai sikap orang-orang yang menyalahkannya karena belum menikah. Sikap antipati pada pertemuan kerabat pun Ia pilih untuk menghindari keterpurukan diri.

Ia memilih terpekur dalam diam, menanti subuh dan bersujud mengadukan keluh kesah yang tak bisa dibagi pada dunia. ”Dimana engkau, bu. Aku merindu dikala engkau mengatakan pada semua orang yang bertanya bahwa indah itu datang pada waktunya, karena Allah swt saat ini sedang menunda jawaban doa atas jodohku” dzatu hanya mampu merintih dalam hati memanggil nama sang Ibu ketika Al-Fathihah telah dipanjatkan untuknya.

***

Hidup itu pilihan, menjalaninya dengan tetap pada satu tempat atau bergerak, layaknya sepeda yang harus dikayuh terus untuk sampai tujuan. Begitu pula Dzatu, gadis manis berlesung pipi yang memilih mengabdikan diri sebagai guru untuk anak-anak kurang mampu, meninggalkan jabatan yang sempat Ia kecapi selama sepuluh tahun. Jabatan yang membawanya pada satu titik kejenuhan hidup dan kerugian yang nyata, yang tentunya tanpa dapat mengerti arti sebenar dari puas.

Semenjak kepergian Ibu yang mendadak tiga tahun yang lalu,. Ia tertampar kenyataan bahwa benar sekarang Ia sendiri, meski silsilah menunjukkan ada runtutan nama yang dikategorikan keluarga; dua kakak yang telah memiliki dunia sendiri, meramu cerita hidup berbeda. Sedang Ia, merasa hanya Ibu sebagai keluarga utuh. Tak terganti namun tak bisa pula Ia sejalan dengan wanita sabar petutur halus yang hingga akhir selalu memberikan wejangan hidup.

”Sesungguhnya engkau anakku, bukanlah milikku, engkau adalah milik masa depan[1]. Aku tak mampu melihatmu tetap sendiri sedang peristrahatan telah menunggu jasadku” penuturan halus lah yang selalu terucap dari mulut Ibu, kata – kata penuh makna yang tak mampu mengolah sikap Dzatu. Ia tetap sibuk dengan urusan duniawi, mengejar tumpukan harta yang diincar dan menargetkan jumlah pasti dalam tempo tertentu. Bentuk merealisasikan impian bahwa uang dapat dan akan mengatasi masalah, mengangkatnya dari dasar ke permukaan, serta menguasakan nama atas sesuatu yang diinginkan.

***

31 tahun, angka suatu kemapanan telah dapat teraih pastinya. Namun tidak baginya, lagu bersama Ibu silih berganti bermain dalam pikirannya. Menghadirkan rasa kecamuk bahwa Ia seutuhnya gagal, kenangan dikala Ibu merangkai kata tentang kesuksesan sejati hadir kembali, satu persatu kalimat itu terngiang seolah Ibu memang sedang bicara padanya saat ini.

”bahagia itu datangnya dari dalam dirimu, nak. Bagaimana engkau menerapkan rasa puas nafsu dalam bentuk syukur. Itulah sejatinya yang harus kau raih” begitu Ibu selalu berkata dan berpendapat bahwa kita memang butuh harta untuk hidup namun bukan berarti hidup ini hanya untuk harta.

”pesan Ibu bacalah Al-Quran berserta hadits dan amalkan lah, belajar tentang hidup dari kitabNya karena semua zaman telah terangkai rapi, kitab Nya merupakan wujud dari perpustakaan dunia dan akhirat, nak”

***

Ia menangisi keadaan, kedua matanya yang kecil tak mampu menahan gejolak batin. ”aku harus kuat, harus tegar” kata-kata tersebut terus menemaninya seraya menguatkan hati namun rasa kehilangan benar-benar membuatnnya kalah.

”Ibu, maafin dzatu bu, maafin dzatu”.

Tiga tahun sudah dan permohonan maaf itu masih diikuti derai tangis, rasa kecewa akan sikap dirinya sendiri dimasa lalu terus membayangi jiwa. Namun, kanvas kemarin telah terlukis, tak mungkin bisa dihapus.

Ia memang telah bangkit, memunguti satu persatu rangkaian puzzle yang dulu tak bisa menyatu karena sikap keras kepalanya, mengingat pesan hidup sang Ibu.

Ia menjilbabi hati dan sikap, memulai lagat pagi menjelang subuh dengan senyuman seraya bersyukur bahwa hari ini masih ada mentari untuk nya, menghangatkan raga dikala embun pagi masih menutup penglihatan.

Ia mulai bersiap untuk berangkat setelah memanaskan mesin mobil dan memasukkan buku-buku hasil sumbangan para dermawan. Perjalanan Semarang – Salatiga memang biasa Ia tempuh sendiri, niat untuk memberikan ilmu memang telah tertanam dalam dirinya, memunculkan rasa puas sebenarnya ketika Ia bisa melihat anak-anak tersenyum setelah berhasil menguasai bahasa Inggris tingkat dasar, setidaknya untuk membalas mengucapkan Your Welcome.

***

Ia memarkirkan Mobilnya didepan bangunan sederhana bercat full colour, nuansa ceria untuk menyemangati kegiatan harian. Bangunan sekolah yang berdiri dari hasil uang pesangon, yang juga dapat menggerakkan beberapa tenaga untuk memberi ilmu pada anak-anak yang kurang beruntung. Sekolah ini berbasiskan pada ilmu akhlak dan penerapan bahasa bilingual; anak-anak pun dapat memperoleh pesan hidup dari definisi sederhana. Dzatu merupakan kepala sekolah dan merangkap sebagai story teller, Ia memberikan pelajaran tentang isi hidup dan kehidupan secara menyeluruh terutama berkaitan dengan ilmu akidah, yang ditanamkan kepada murid-muridnya selama berada di kelas. Murid-murid tersebut secara keseluruhan berjumlah sekitar delapan puluhan dan berasal dari skala umur berbeda; antara 5 hingga 15 tahun, yang diberi kelas yang berbeda pula dengan waktu yang bergantian, karena keterbatasan jumlah pembimbing yang hanya empat orang, termasuk Dzatu. Maka tak heran jika Dzatu terbiasa melewati Maghrib dimushola atau mesjid yang Ia temukan ketika diperjalanan menuju pulang

”Al Falaq – Lunggi’s inspiration”

(Selalu Ada Untuk Mu)

Nama sekolah yang Ia pilih karena terinspirasi dari rasa cinta sang Ibu pada Subuh. Sekolah yang tiga tahun terakhir ini memompa kepercayaan diri anak-anak kurang beruntung dan orang tua mereka. Sejatinya dzatu ingin bahwa tidak akan ada anak yang merengek meminta uang kepada orang tua nya untuk sekedar melunasi SPP sebesar dua ribu lima ratus rupiah dan tidak akan ada pula berita utama tentang percobaan anak kecil gantung diri karena ikut memikul beban hidup tanpa kehendaknya.

***

”Assalamu’alaikum warrohmatullahi wabarokatuh, anak-anak. Good morning kids”.. dzatu membuka obrolan kelas dengan ciri khas nya. Senyuman hangat dipagi hari menyemangati cakrawala yang berteman sepi. ”Nice Monday ya kids, hari ini kita akan membahas tentang orang yang diidolakan”

”Saya punya mam, Ayah. He is a great boy i ever had ” ungkap siska, salah satu dikelas yang langsung tertarik setelah mendengar topik hari ini”

“You mean a great man, siska. mmmm, kamu pasti sayang ya sama Ayah. Please tell us about him”

”Ya, siska sayang sama Ayah, Ayah yang ngajarin siska baca, Ayah yang membujuk siska kalo siska ngambek dan Ayah juga yang biasanya bertanya ada apa siska?. Ayah nggak mau ngeliat siska nangis, kalo ayah nguli diluar kota, Ayah pasti nelpon lewat rumah mbah adi, tetangga rumahnya Siska dan Siska pasti nangis kalo denger suara Ayah. Tapi, Ayah nggak pernah nelpon lagi sejak setahun yang lalu. Ibu nggak mau jawab kalo siska nanya kenapa Ayah nggak nelpon. Ibu bilang waktu Ayah didunia udah habis, jadi sekarang saatnya Ayah bersama kekasih hatinya. Siska pasti ketemu Ayah lagi, Siska tau Ayah selalu ngejaga dan ngeliat Siska meski jauh”

Benak Djatu terbang, ragam pendapatnya menari membatin ’bagaimana bisa bocah berumur 6 tahun saja bisa menerima kepergian sang Ayah dengan legowo, tapi aku selalu menyalahkan Sang Khalik karena merenggut yang kucintai tanpa pamit’

”Mbak, Mbak!! Mbak Djatu kok ngelamun”. Siska membuyarkan semua kecamuk pikiran Djatu. “mmm ada, ada, kenapa sayang? Mbak hanya teringat sesuatu setelah denger cerita kamu”

”bukankah suatu pertemuan itu ada akhir ceritanya, mbak! Sama seperti cerita dongeng yang akhirnya bikin kita-kita nangis atau ketawa seneng ya? Mama selalu bilang gitu habis bacain dongeng sedih atau suka”

Dzatu selalu merasa terpesona dengan pengungkapan sederhana Siska dalam menerjemahkan hidup, Ia tersenyum seraya mengelus pipi mulus bocah itu ”Ya, dan selalu pasti ada perpisahan, anak-anak. Kita harus” ucapan Djatu tercekat, mengetahui bahwa Ia tidak bisa memberikan wejangan yang Ia sendiri belum bisa lakukan. Wejangan yang hanya bisa dikatakan dalam hati, tak terucap ’harus seharusnya ikhlas, menyerahkan semua pada Sang Pemilik Raga’

”ok, mmm, ya, mbak pengen kalian tulis siapa idola kalian, dan yang kalian pelajari dari sang idola. Mbak kasih waktu 20 menit buat dikumpulin ya!” Dzatu bergegas keluar menuju toilet setelah berhasil menata emosinya didepan murid-muridnya dengan mengalihkan wejangan ke tugas menulis.

***

Waktu telah menunjukkan sore hari, Dzatu bergegas menyiapkan diri agar bisa tiba dirumah setidaknya sebelum Isya. Mobil toyota harrier, hasil kerja kerasnya dulu pun bersiap melaju dalam kebisingan..

”bukan Ibu yang gagal mendidikku sebagai anak, tetapi aku yang telah memilih belokan jalan yang keliru,bu” ia mengingat betul bagaimana didetik terakhir sang ibu meminta maaf karena tidak berhasil membimbing dzatu dijalan Nya; ”Ibu telah gagal, nak. Bahkan untuk meminta disedekahi Al Fathihah saja Ibu malu”

”bu, tanpa Ibu pinta pun Dzatu akan memenuhi ingin Ibu”. Kejadian siang hari bersama Siska menghadirkan lintasan ragam cerita masa lalu, slide-slide penyesalan berpendaran mengisi kekosongan pikran Dzatu. Kerinduan mendalam akan sosok Ibu mendera Dzatu,memudarkan konsentrasi mengemudi. Siska turut merasakan kerinduaan pada sang Ayah dalam nuansa yang jauh berbeda; Dzatu dengan memoir kesalahan, sedangkan Siska mengisi kerinduan akan Ayah dengan hari lalu yang indah dan harapan akan pertemuan dimasa mendatang.

”Dzatu kangen, bu.. kangen, Ibu dimana” teriakan itu tidak mampu keluar, tersendat di tenggorokan. Malu melawan hati kecil Dzatu yang malu, malu pada kedewasaan bocah seumur Siska dalam menghadapi kehilangan.

Harrier terus melaju dengan kecepatan yang tak terkirakan Dzatu dan terhenti oleh Adzan Maghrib yang mengema, terhenti dipersimpangan jalan yang memiliki sebuah Mushola ringkih yang masih mampu berdiri . Dzatu tak menyadari Ia dimana, Ia hanya terpesona dengan merdunya suara sang Muadzin di Mushola kecil ini, Ia hanya tau bahwa Ia berada di suatu tempat asing yang mengenalkannya pada kedamaian. Ia terperkur lama, tanpa menyadari bahwa Ia melupa akan kenangan. Perlahan Ia menapakkan kakinya, memasuki pelataran mushola ”Assalamu’alaikum” ragu Ia mengucap salam pada warga yang menatapnya heran. Mereka menengok takjub karena ada sosok wanita cantik yang bersedia masuk dan ingin sholat di Mushola ini, sedangkan jarak beberapa meter terdapat Mesjid megah. ”Wa’alaikumsalam” sapa Ibu separuh baya yang langsung mencairkan tatapan aneh para warga ”dari mana,nak? sudah wudhu?” Dzatu terkesiap karena ujaran ’nak’ yang digunakan Ibu sepuh itu membawanya kembali pada silam, Ia pun terbata ”mmm, sa, sa, saya dari Salatiga bu,sudah tadi bu. Tadi sebelum berangkat pulang, saya sudah wudhu dikantor. Maaf, Ini di mana ya bu?”

”lho kok nanya seperti itu nak? Bukankah harusnya tau ini dimana”

”sayangnya selama kurang lebih tiga tahun saya bolak balik Semarang-Salatiga saya tidak pernah melewati daerah ini dan saya juga tidak tau kenapa saya bisa disini, yang saya tau alunan suara Muadzin membuat saya berhenti”

”subhanallah,hanya Allah yang maha tahu semua rencana nak”. Dzatu mengiakan dengan mengucap syukur.

Seperti Maghrib biasanya, setelah selesai sholat berjamaah Ia merapikan mukena dan beranjak melanjutkan perjalanan. Namun, tangan sepuh menahannya ”nak, tinggallah hingga Isya, akan ada” belum sempat Ibu tersebut melanjutkan, seorang pemuda yang berdiri dimimbar memberi salam ”Assalamu’alaikum saudara-saudara ku”. Mata dzatu terhenti pada sosok yang menenangkan dihadapan hadirin. ”Alhamdulillah, kita dapat berkumpul lagi disini dan telah melaksanakan sholat berjamaah, mungkin ada beberapa saudara-saudara yang ingin berbagi seraya kita menanti isya”

Dzatu melihat ke sekeliling, terpana karena jumlah makmum dimushola mulai bertambah semenjak pemuda dimimbar membuka obrolan. Dzatu tidak tahu pasti siapa pemuda itu, Ia cukup tua untuk disebut santri dan tak cukup tua pula untuk disebut ustadz. Ia tak terlihat seperti seseorang yang sedang dalam proses menimba ilmu agama, tapi Ia terlihat seperti seseorang yang kaya pengalaman hidup, matanya memancarkan ragam pengetahuan yang sempat Ia cicipi; menyelaraskan ilmu dunia dengan tataran agama.

”Assalamu’alaikum ya musafir” demikian Dzatu mendengar seorang warga yang menyapa pemuda dmimbar tersebut ’musafir’. ”wa’alaikumsalam, bung. Silakan kalo

mau berbagi”

”saya yo ndak tau mau mulai darimana, saya yo bingung dengan diri saya” warga yang berperawakan masih bugar tersebut memulai dengan menggunakan bahasa Indonesia logat jawa yang terbata-bata, mengisyaratkan bahwa ’musafir’ yang sebagai pendengar tidak paham bahasa Jawa ”harusnya yo wong jowo iku nerimo, tapi saya kok nggak iso yo musafir?, saya yo nyoba, tapi yo piye? Kayak e kok semua malah jadi kacau, mulai dari kehidupan dirumah, ya saya bertengkar terus dengan istri, saya tau istri saya ya tidak apa-apa kalo saya belum bisa banyak ngasi rezeki, tapi saya pengen lebih, pengen bisa bikin lebih bahagia. Terus yo kita ribut karena beda pendapat. Musafir, dasar nerimo iku opo to? pasti ono to?”

Musafir tersenyum mendamaikan, bukan nada mengejek tapi hanya menyatakan bahwa semua ada jalan keluarnya dan Ia pun berujar ”semua orang punya cita-cita, semua orang berhak bermimpi, semua orang pasti punya harapan dan memiliki cara menuju harapan tersebut. Tapi apakah itu cukup setelah punya cita-cita dan cara, dan memang setiap hal punya dasarnya, sebagai umat muslim kita hendaknya berpegang pada kitab suci, kita hendaknya bisa menerapkan sesuai syariat Nya”. Seisi ruangan terdiam, mereka hanya termenung terbawa pikiran masing-masing, dan sayup suara Dzatu yang hanya berupa bisikan mencela memecahkan sepi, terdengar oleh Musafir ”bagaimana?”

Serta merta Musafir menoleh dan menanggapi Dzatu ”bagaimana,mbak? bisa diulangi?”

”oh, maaf. Saya tidak bermaksud bertanya atau bahkan menanggapi”

”tidak apa-apa, mbak. Silakan”

”Maaf sebelumnya, saya bukan warga sini dan saya tadi hanya jadi makmum Maghrib, jadi saya pikir saya tidak pantas berada disini” Dzatu berusaha mengelak pernyataan bisikannya tadi namun sang musafir mengerti arahan tuturan Dzatu

”ya, kalo begitu saya mengerti. Pertama untuk mbak ketahui bahwa disini kita membuka obrolan tentang hidup dan kehidupan. Tidak harus menjadi warga sini dulu kalo memang mbak mau berbagi dengan kami, Saya disebut musafir juga karena saya adalah seorang musafir sama halnya dengan mbak, kegiatan ini dilakukan semenjak beberapa minggu yang lalu dan saya hanya sebagai moderator saudara-saudara saya ini. Mungkin cukup untuk perkenalan kegiatan ini”. Perkenalan singkat itu dibubuhi oleh seorang waga yang menyeletuk ”ndak apa-apa kalo mbak mau cerita, bukankah semua umat muslim itu bersaudara dan sebagai saudara sejatinya kita saling menopang”

Dzatu masih mencerna setiap pernyataan yang diterimanya, Ia hanya bergumam dan diam dan kemudian Ia memberanikan diri dengan masih diselimuti rasa was-was ”saya tidak mengerti dengan penerapan yang dimaksudkan musafir” dzatu tertunduk malu ”saya, saya bergerak dibidang sosial. Mengajar untuk anak-anak kurang mampu, pada dasarnya yang memotivasi saya melakukan itu karena rasa bersalah pada Ibu saya. Dulu, saya wanita yang sibuk dengan urusan keduniaan. Saya sibuk mengejar karier untuk menumpuk harta. Hingga urusan sosial saya acuhkan. Ibu saya, sebelum meningal, sempat menyatakan kecewaannya secara implisit bahwa tidak hanya materi yag perlu dikejar. Berdasar pada itulah, saya bekerja membantu anak-anak kurang mampu tersebut. Tapi, sekarang saya ragu setelah mendengar pernyataan Musafir. Saya ragu benarkah saya?” dzatu masih menunduk sambil mengatur napas agar sedihnya tak tampak. Seisi ruangan yang sedari tadi memperhatikan Dzatu tampak bingung. Sebagai orang pedesaan yang kurang pendidikan mereka tak menyangka ternyata seseorang yang tampak sempurna dipermukaan,dapat pula memendam kekurangan. Begitu naif hidup ini, setiap manusia selalu merasa tak puas, dan mungkin memang begitu lah seharusnya, apalagi menyangkut agama. Toh, ketidakpuasan merupakan salah satu jalan menuju menjadi pribadi yang lebih baik.

Musafir hanya tersenyum, memecahkan keheningan yang tercipta sejenak ”setiap orang

pernah merasakan kehilangan, dalam bentuk kecil ataupun besar. Mungkin akan mudah tergantikan jika yang hilang itu adalah benda mati yang bisa dicari gantinya. Sedangkan, orang yang telah menghadap Maha Kuasa tak mungkin tergantikan apa pun. Setidaknya kita memiliki satu hal, kenangan”. Dzatu perlahan menatap wajah teduh sang Musafir yang masih meneruskan dan menatap Dzatu ”penerapan yang tadi saya maksud adalah bahwa kitab suci yang sering kita baca dengan benar tidak hanya sebagai sesuatu yang suci dan yang dilindungi. Kita ketakuatan setengah mati jika Al Qur’an diperlakukan tak pantas, sehingga kita akan mencium covernya dan beristighfar jika Kitab tersebut terjatuh. Bukan hanya perlakuan seperti itu, tapi penerapan yang sesungguhnya berkaitan yang telah diajarkan Al Qur’an. Jika memang kita telah dapat membaca, maka cobalah menerapkan isinya. Saya, disini, tidak bisa menghakimi sikap mbak benar atau tidak. Mungkin sesama saudara seiman, saya hanya dapat berpesan bahwa setiap hal yang kita dilakukan hendaknya berawal dari lubuk hati kita, sehingga ketulusan pun ada. Sesuatu hal hanya dapat disebut bernilai dan baik jika memberikan manfaat bagi semua orang; tidak hanya untuk satu pihak saja”

Dzatu mencoba menatap mata musafir yang berkata sungguh-sungguh ”terima kasih, saya mengerti maksudnya. Saya tau motivasi saya selama ini yang melenceng dari seharusnya, saya melupakan peran Sang Pemilik Jagad Raya. Saya tidak mendapat apa-apa semenjak meninggalnya Ibu tiga tahun lalu, Saya malah terus meratapi diri. Terima Kasih,Musafir”

”ini semua rahasia Allah, kita semua berjodoh bertemu disini. Ditakdirkan untuk saling berbagi. Berucap Syukurlah pada Nya, mbak. Saya ini hanya hamba, sama seperti saudara-saudara semua”.

Dzatu sesenggukan dan mengangguk ketika pamit pulang, tak henti-hentinya Ia merundukkan kepala menyatakan terima kasih yang mendalam. Percakapan hari ini bersama Siska dan pertemuannya dengan Musafir memberikan kesimpulan hidup yang telah lama Ia cari. Dzatu tahu apa yang sesungguhnya Ia nanti dari Shubuh. Ia tak lagi menunggu Shubuh tuk mengadu kan hati pada Ibu yang telah bersemayam, melainkan mengawali hari barudengan mendendangkan Ayat-ayat Cinta milik Nya dan perlahan namun pasti membawanya dalam kehidupan.



[1] Kahlil Gibran

Tidak ada komentar: