Selamat Datang di Zona lingkup kehidupanku

Kamis, 09 April 2009

suatu awal

Tangan itu berkali-kali menamparku, membawa ku kembali kealam nyata. Alam yang ingin sekali kuhindari tatkala itu. Tatkala Ia dengan mudahnya menyatakan pengunduran diri lewat sms, seolah aku atasan yang tak pantas dihargai sehingga dengan mudah seorang bawahan ingin mengundurkan diri secara informal. Namun anehnya, aku bukan atasan dan dia bukan bawahanku. Aku dan dia terikat dalam suatu komitmen percintaan, ikatan yang membawaku pada tingkat rela menyerahkan apa pun dengan atau tanpa Ia pinta. Ikatan yang ternyata menggunakan ’pernyataan pengunduran diri’ untuk memutuskan hubungan. Berulang kali aku membaca pesan di hp, aku mendikte satu persatu kata yang tercantum.

From : My Beb

Maaf, Mas mengundurkan diri dari hubungan kita, Mas sudah mencoba untuk mengerti dinda. Tapi mas gak bisa terus begini. Ikhlasin kesalahan Mas dan Mas pun bisa mengikhlaskan dinda.

Mata ku terpaku pada sms itu, aku tahu dia bukan lelaki yang terbiasa menggertak atau bermain-main dengan keseriusan, dan aku pun tahu sms itu berupa suatu pernyataan tegas tanpa butuh pendapatku. Pernyataan yang menjelaskan bahwa tidak ada ’kita’ lagi besok, tapi ’aku’ ’kamu’. Aku kelagapan, tangan ku bergemetar dan serta merta aku membalas sms dengan dua sms berturut turut

To : My Beb

Maksudnya apa?

To : My Beb

Dinda g ngerti, mas. Jangan kayak gini, dipikirin dulu aja. Jangan gini mas

Sejenak aku termenung memikirkan cerita yang telah terjalin dua tahun bulan depan. Lelaki yang membuatku jatuh cinta, tatapan cinta yang hanya ku rasakan padanya, padanya, lelaki yang berusia jauh diatasku. Kesopanannya dalam menghargai wanita, kelembutannya dalam bertutur seolah berkebalikan saat ini. Mata ku memang tertutup kenyataan, aku tak menghiraukan suara hati yang menjeritkan fakta bahwa Ia tidak sebaik yang kulihat. Seharusnya aku tahu dibalik kesopanannya, Ia selalu menyelipkan kata-kata tak pantas yang menurunkan tingkat kepercayaan diriku. Aku hanya menerimanya apa adanya dan menutupi kekurangan fatalnya.

Sejenak itu pula aku bergegas wudhu dengan tangan yang semakin bergetar kencang dan hati yang menohok. Berkali-kali aku mencoba mengucap takbir dengan hati yang mantap, namun tetap saja air mata bersimbah di Isya ku. Napas ku memburu mencari oksigen, aku merasakan perut dan kaki ku kedinginan mengejang. Aku mencoba meraih hp tuk menghubungi teman kos yang ada di lantai atas. ”halo, mbak. Mbak, tolong dinda. Sesek.” alat wicara ku kesulitan memproduksi kata karena oksigen tidak keluar dengan baik dari larynx. ”kenapa? Iya, mbak turun”. Aku mendengar langkah-langkah kaki yang bergegas kepanikan menuju kamarku,yang mendapati aku terbaring lemas di sajadah, masih dengan mukena. ”sakit mbak. Sakit”, aku melihat samar teman-teman yang aku panggil mbak, yang sudah aku anggap sebagai kakak ku panik ”kenapa? Dimana sakitnya? Iya,nggak apa apa, mbak disini”.

Aku masih merasakan semut-semut menjalari kaki, tangan dan perutku setelah tetangga membopongku kedalam taksi, potongan slide selama bersamanya memenuhi pikiranku dan kembali memperlambat masuknya oksigen. Aku memilih menghentikan napas, berharap menghadap Sang Kuasa dalam hitungan detik. Namun, tamparan itu berulang kali memanggil-manggil namaku, mengingatkanku untuk terus sadar. ”din, BANGUN DIN, BANGUN”.

Tubuh ini masih lemas sewaktu aku pulang dari UGD, masih kuingat Dokter yang hanya tersenyum karena tahu aku tidak sungguh sakit. Batin ku yang merana, Ia tahu itu. Perawat pun berkata ”udah, nggak apa-apa. Nangis aja kencang-kencang, keluarin semua, jangan ditahan”. Aku tak bisa meluapkan semua, tapi air mata terus mengalir semakin menyesaki dada.

Hati dan pikiranku tak mau sejalan, aku tak menapaki bumi dengan benar. Ragam tanya masih menyelubungi jiwa kenapa, salahku apa, ada apa ini. Aku mencoba untuk menelponnya, namun tangan-tangan penuh kasih lagi-lagi mengingatkanku untuk menahan diri. Aku tak mampu bertahan dalam sakit.

”Wa’alaikumsalam” kudengar suaranya yang terbalut asap rokok menahun, suara yang tidak enak didengar namun menjadi candu bagiku. ”tolong jelasin semua, mas. Tadi nggak serius kan, tadi dinda ke Rumah sakit”. ”tadi aku kesana,nggak ada orang dikos. Aku capek besok aja kalo aku sudah pulang dinas” suaranya yang tak peduli menyakitiku lagi dengan sangat. Aku mendesaknya ”aku pengennya sekarang selesai,aku nggak mau nunggu selama tiga hari dengan perasaan kacau”. ”oke, aku mau kita putus, aku udah nggak kuat sama kamu. Aku udah ngasi kesempatan buat kamu berubah, ternyata kamu tetap aja kayak gitu. Kamu pengen menjadi nomor satu, sedangkan kamu tahu yang selalu jadi nomor satu itu Allah. Aku nggak bisa menjadikan kamu nomor satu. Aku nggak peduli kamu anak siapa, aku ingin kita putus.”

Aku terkesiap mendengarkan keangkuhannya yang ingin menang memutuskan hubungan ini, aku hanya bisa diam sesaat mencerna kata-katanya sebelum berkata ”mas. Dipikirin dulu aja. Aku juga nggak tau kapan aku buat kesalahan dan kapan kamu ngasih kesempatan”. ”sudah. Sudah cukup”. Aku memohon untuk memberikanku kesempatan lagi, aku memohon selayaknya hamba pada Tuhannya, kesalahan terbesar yang ku sesali di kemudian hari. Hanya untuk seorang lelaki yang dimataku sempurna aku memohon tanpa kenal gengsi.


Entahlah, beragam kata kuucapkan untuk mengajaknya kembali, janji kemarin pun tak ada artinya lagi. Aku dan dia putus tanpa bersua, perjanjian untuk bertemu lagi satu setengah bulan kemudian disepakati dengan kata Jika Allah Menghendaki.

***

Aku dan dia pun bertemu disebuah cafe, aku sempat menantinya untuk beberapa menit. Aku tak bisa menebak seperti apa ini setelah semua perubahan yang terjadi.

Seorang lelaki melangkah masuk kedalam cafe. Ia menggunakan kaos berwarna krem, kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Ia tetap sama seperti dulu,membawa senyum yang menawan dan kematangan seorang lelaki berusia mapan. Satu yang jelas berbeda, Ia bukan siapa siapa untukku.

Ia tersenyum tanpa ada yang terjadi antara kami satu setengah bulan yang lalu. Menyapaku dengan obrolan basa basi dan terus bertanya tentang keluargaku yang tadinya akan menjadi keluarganya ”apa kabar mama papa?”. ”baik”. Satu pertanyaan selalu ku jawab sepatah kata, hatiku masih tertusuk,meski tak sesakit dulu. Aku ingin dia bercerita tentang apa yang terjadi kemarin, ingin Ia menjelaskan bahwa betapa menyesalnya Ia. Namun, tak ada satu kata pun mengarah pada apa yang telah terjadi. Pertemuan kami kosong, tiada manfaat. Aku melewatkan satu jam setengah bersamanya tanpa perlu menghadirkan batinku secara utuh, karena bagian diriku yang lain melayang ketika Ia bercerita tentang kegiatan dan segala aktivitasnya kini. Kamu bukan siapa siapa, berkali kali ku nyatakan ini pada diriku sendiri. Pertemuan pun berakhir tanpa kejelasan, satu yang jelas untukku bahwa tidak ada lagi tatapan cinta ku untuknya dan tatapan kemarin hanyalah suatu kekeliruan kecil dalam hidupku. Dan, dunia belum berakhir, aku baru saja memulai suatu awal.

2 komentar:

Nowhere Man mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Nowhere Man mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.