akhir akhir ini, aku sering kilas balik ke masa lalu, mengingat2 benarkah seperti itu dulu atau aku melupakan potongan2 kecil ingatan yg penting.. urusan penyelesaian tesis yg hampir kehabisan waktu dan detil pernikahan yg tak tertanggung membuatku tak sempat berpikir 'apakah 1 kata tertentu pantas digunakan pada orang tertentu', hingga setelah dua kali Mamak bercerita tentang keluhan Bapak akan ku ketika berbicara padaku ditelpon.
Menurutku Duniaku adalah Aku dan Bapak,
Menurut Orang2 Aku adalah anak bapakku
Menurut nenekku tidak baik terlalu dekat dengan lelaki,meski orang tua sendiri.
Bapak mengajariku berenang ketika umurku 4 tahun dan adikku 2 tahun, menyempatkan waktunya agar aku tidak terjatuh disungai lagi.
Bapak mendisiplinkan aku dengan pulang kerumah sebelum Beliau pulang kantor.
Bapak tidak pernah sungguh2 mengijinkan aku keluar malam minggu ketika aku beranjak SMA,dan selalu membuntuti kemana aku pergi.
Bapak mengetuk pintu dan membujukku ketika aku berdiam diri 'ngambek' dikamar.
Bapak selalu bilang 'iya citra, catat saja, nanti Bapak belikan' meski Beliau tidak memiliki apa2 saat itu.
Bapak pasti berkata 'iya, bapak isikan pulsanya', yang baru aku tau Bapak harus berangkat dinas keluar kota yg jaraknya jauh untuk mendapatkan uang 50000 untuk pulsa anaknya.
Bapak menyebutku 'Imelda Marcos' karena hobiku koleksi sepatu dan tas.
Bapak terbiasa dengan suara kerasnya dan ketika aku menangis karena suara itu, Bapak membiasakan diri 'memelankan suara' ketika bicara padaku.
Bapak terbiasa makan dipagi hari dan sore hari dengan ditemani Mamak dan memilih menunda makan jika Mamak tidak dirumah.
Bapak berkata 'jangan menangis' ketika aku patah hati.
Bapak pertama kali bertanya 'seriuskah kamu dengan lelaki ini' saat aku dekat dengan calon suamiku.
Bapak pernah marah padaku ketika pernikahan adikku 'ikhlaskan citra, hatimu ga ikhlas makanya kamu begitu'
Bapak sangat suka memancing dan menghabiskan waktunya dengan 'ojeg perahu'.
Bapak sulit tersenyum tapi tidak jauh dari kata 'jahil'
Bapak pernah berkata "Jabatan itu duniawi, pertanggung jawaban ke Allah lah yang lebih penting"
Bapak memotivasiku "rezeki itu dari Allah, kl berdua rezekinya lebih banyak" ketika aku mengalami masa masa pre marital syndrome.
Bapak selalu menengok ke kamar tidur hanya untuk memastikan apakah ada nyamuk,
Bapak tidak keberatan ketika berbagi tempat tidur denganku
Bapak akan dengan senang hati memijit kepalaku ketika aku sakit.
Bapak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dengan Game dikomputer, karaoke dan Tanaman.
Bapak bagi orang lain terlihat sombong, yg sebenarnya Beliau menyembunyikan kenyataannya.
Bapak dan aku terbiasa bercanda, kebiasaan yang membuat nekwan [nenek] melarangku karena tidak baik bercanda dengan orang tua seperti itu.
Bapak mencari kesibukan lain sambil mengomel ketika aku merebut permainan Game dikomputernya.
Bapak selalu hadir dengan kata2 nya yang bijak padaku, pembaca cerpen terbitan pertamaku.
Bapak,akhir2 ini, selalu bilang 'waktu Bapak sedikit lagi' dan membuatku demam setiap mendengar kata2 itu
Bapak tidak pernah takut berada dijalan yang dipilihnya, bukan tipe orang yang 'mencari muka' untuk hal2 apapun.
Bapakku adalah lelaki yang mencintai istrinya sepenuh hatinya.
Bapak bagiku adalah lelaki pertama yang aku sayangi, aku cintai.
Memikirkan bahwa Aku akan menikah membuatku tak kuasa menahan tangis,
Aku memilih menghabiskan waktu dirumah dengan menguasai tempat tidur Bapak saat liburan kemarin.
Aku merecoki permainan game untuk mendengar Beliau mengomel.
Aku menemani Beliau dimeja makan ketika Mamak sibuk rapat,
Aku ingin terus bisa ada buat Bapak; meski hanya memijit kakinya yang sering kram atau untuk mengambilkan madu dan air.
Aku,akhir akhir ini, melupakan waktu2 aku bisa menangis dengannya
Aku menghadirkan keegoisanku dan lupa akan Beliau.
Jika orang lain ingin Bapak melakukan suatu hal yang besar,
Aku hanya ingin Bapak sehat dan bahagia.
YA ALLAH, jika diperkenankan aku ingin membanggakan Bapak sekali lagi..
*untuk Bapak, pemicu semangatku*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar