Tangan itu berkali-kali menamparku, membawa ku kembali kealam nyata. Alam yang ingin sekali kuhindari tatkala itu. Tatkala Ia dengan mudahnya menyatakan pengunduran diri lewat sms, seolah aku atasan yang tak pantas dihargai sehingga dengan mudah seorang bawahan ingin mengundurkan diri secara informal. Namun anehnya, aku bukan atasan dan dia bukan bawahanku. Aku dan dia terikat dalam suatu komitmen percintaan, ikatan yang membawaku pada tingkat rela menyerahkan apa pun dengan atau tanpa Ia pinta. Ikatan yang ternyata menggunakan ’pernyataan pengunduran diri’ untuk memutuskan hubungan. Berulang kali aku membaca pesan di hp, aku mendikte satu persatu kata yang tercantum.
From : My Beb
Maaf, Mas mengundurkan diri dari hubungan kita, Mas sudah mencoba untuk mengerti dinda. Tapi mas gak bisa terus begini. Ikhlasin kesalahan Mas dan Mas pun bisa mengikhlaskan dinda.
Mata ku terpaku pada sms itu, aku tahu dia bukan lelaki yang terbiasa menggertak atau bermain-main dengan keseriusan, dan aku pun tahu sms itu berupa suatu pernyataan tegas tanpa butuh pendapatku. Pernyataan yang menjelaskan bahwa tidak ada ’kita’ lagi besok, tapi ’aku’ ’kamu’. Aku kelagapan, tangan ku bergemetar dan serta merta aku membalas sms dengan dua sms berturut turut
To : My Beb
Maksudnya apa?
To : My Beb
Dinda g ngerti, mas. Jangan kayak gini, dipikirin dulu aja. Jangan gini mas
Hati dan pikiranku tak mau sejalan, aku tak menapaki bumi dengan benar. Ragam tanya masih menyelubungi jiwa kenapa, salahku apa, ada apa ini. Aku mencoba untuk menelponnya, namun tangan-tangan penuh kasih lagi-lagi mengingatkanku untuk menahan diri. Aku tak mampu bertahan dalam sakit.
Aku terkesiap mendengarkan keangkuhannya yang ingin menang memutuskan hubungan ini, aku hanya bisa diam sesaat mencerna kata-katanya sebelum berkata ”mas. Dipikirin dulu aja. Aku juga nggak tau kapan aku buat kesalahan dan kapan kamu ngasih kesempatan”. ”sudah. Sudah cukup”. Aku memohon untuk memberikanku kesempatan lagi, aku memohon selayaknya hamba pada Tuhannya, kesalahan terbesar yang ku sesali di kemudian hari. Hanya untuk seorang lelaki yang dimataku sempurna aku memohon tanpa kenal gengsi.
Entahlah, beragam kata kuucapkan untuk mengajaknya kembali, janji kemarin pun tak ada artinya lagi. Aku dan dia putus tanpa bersua, perjanjian untuk bertemu lagi satu setengah bulan kemudian disepakati dengan kata Jika Allah Menghendaki.
***
Seorang lelaki melangkah masuk kedalam cafe. Ia menggunakan kaos berwarna krem, kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Ia tetap sama seperti dulu,membawa senyum yang menawan dan kematangan seorang lelaki berusia mapan. Satu yang jelas berbeda, Ia bukan siapa siapa untukku.
Ia tersenyum tanpa ada yang terjadi antara kami satu setengah bulan yang lalu. Menyapaku dengan obrolan basa basi dan terus bertanya tentang keluargaku yang tadinya akan menjadi keluarganya ”apa kabar mama papa?”. ”baik”. Satu pertanyaan selalu ku jawab sepatah kata, hatiku masih tertusuk,meski tak sesakit dulu. Aku ingin dia bercerita tentang apa yang terjadi kemarin, ingin Ia menjelaskan bahwa betapa menyesalnya Ia. Namun, tak ada satu kata pun mengarah pada apa yang telah terjadi. Pertemuan kami kosong, tiada manfaat. Aku melewatkan satu jam setengah bersamanya tanpa perlu menghadirkan batinku secara utuh, karena bagian diriku yang lain melayang ketika Ia bercerita tentang kegiatan dan segala aktivitasnya kini. Kamu bukan siapa siapa, berkali kali ku nyatakan ini pada diriku sendiri. Pertemuan pun berakhir tanpa kejelasan, satu yang jelas untukku bahwa tidak ada lagi tatapan cinta ku untuknya dan tatapan kemarin hanyalah suatu kekeliruan kecil dalam hidupku. Dan, dunia belum berakhir, aku baru saja memulai suatu awal.
2 komentar:
Posting Komentar